JAKARTA - Momentum Hari Raya Idul Fitri selalu menjadi periode yang dinanti oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Selain menjadi momen silaturahmi bagi masyarakat, Lebaran juga identik dengan peningkatan aktivitas ekonomi, mulai dari perjalanan mudik hingga lonjakan konsumsi berbagai kebutuhan masyarakat.
Tingginya mobilitas masyarakat selama musim mudik biasanya menciptakan peluang besar bagi pelaku usaha kecil di berbagai daerah. Aktivitas ekonomi meningkat di pusat perbelanjaan, kawasan wisata, rest area jalan tol, hingga pusat transportasi seperti terminal, pelabuhan, dan bandara.
Pemerintah memandang momentum Lebaran sebagai salah satu periode penting yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi rakyat, khususnya bagi pelaku UMKM yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pun memperkirakan bahwa momen Lebaran 2026 akan memberikan dampak positif yang signifikan terhadap omzet pelaku UMKM. Bahkan, pendapatan mereka diprediksi dapat meningkat hingga beberapa kali lipat dibandingkan hari biasa.
Lonjakan Omzet UMKM Saat Lebaran
Kementerian Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) memperkirakan momentum Lebaran 2026 dapat mendongkrak omzet UMKM hingga empat kali lipat dibandingkan hari biasa.
Deputi Bidang Usaha Kecil Kementerian UMKM Temmy Satya Permana dalam temu media di Jakarta, Selasa, mengatakan rata-rata omzet harian UMKM yang biasanya sekitar Rp1 juta, diperkirakan melonjak hingga Rp4 juta saat Lebaran.
Menurut Temmy, peningkatan pendapatan tersebut tidak terlepas dari tingginya mobilitas masyarakat yang terjadi selama musim mudik Lebaran.
“Dengan data yang sedemikian besar dari calon konsumen dan pendatang, wajib dimanfaatkan oleh UMKM terutama yang ada di infrastruktur publik, tempat pariwisata, maupun pusat perbelanjaan di kota tujuan besar,” ujar dia.
Lonjakan jumlah pengunjung di berbagai lokasi strategis selama periode Lebaran membuka peluang besar bagi UMKM untuk meningkatkan penjualan produk mereka.
Kehadiran para pemudik yang datang dari berbagai daerah juga menciptakan pasar yang lebih luas bagi pelaku usaha lokal.
Pergerakan Pemudik Picu Aktivitas Ekonomi
Momen mudik Lebaran selalu diikuti dengan meningkatnya aktivitas perjalanan masyarakat di seluruh wilayah Indonesia. Pergerakan besar-besaran ini turut memicu aktivitas ekonomi di berbagai sektor, termasuk sektor usaha kecil.
Ia mengatakan, mengutip data Kementerian Perhubungan (Kemenhub), jumlah pemudik tahun 2026 diproyeksikan sedikit menurun dibandingkan tahun 2025, dari 143 juta menjadi 144 juta orang, dengan estimasi perputaran uang mencapai Rp175–190 triliun.
Besarnya perputaran uang tersebut menjadi indikator bahwa Lebaran merupakan salah satu periode dengan aktivitas ekonomi tertinggi dalam setahun.
Selain itu, Bank Indonesia juga menyiapkan uang tunai dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama periode Lebaran.
Bank Indonesia, menurut dia, juga menyiapkan uang tunai sebesar Rp185 triliun untuk penukaran uang Lebaran.
Ketersediaan uang tunai yang memadai diharapkan dapat mendukung aktivitas transaksi masyarakat selama periode tersebut.
Sebaran Moda Transportasi Pemudik
Pergerakan jutaan pemudik selama musim Lebaran akan terjadi melalui berbagai moda transportasi. Kondisi ini menciptakan potensi pasar bagi UMKM yang berada di jalur transportasi maupun titik singgah para pemudik.
Kemenhub memprediksi sebanyak 76,2 juta orang akan mudik menggunakan mobil pribadi dan singgah di rest area besar.
Sementara itu, 23,2 juta orang diperkirakan menggunakan angkutan umum, 6,4 juta melalui pelabuhan, 4,98 juta lewat bandara, dan 2,12 juta melalui stasiun.
Data tersebut menunjukkan bahwa berbagai titik transportasi memiliki potensi besar sebagai lokasi penjualan produk UMKM.
Selain itu, sebagian besar perjalanan pemudik diperkirakan terjadi di Pulau Jawa.
Dari total pemudik, sekitar 68,9 persen perjalanan diproyeksikan terjadi di Pulau Jawa dengan volume mencapai 199 juta pergerakan.
Besarnya pergerakan masyarakat di wilayah ini membuat peluang usaha bagi UMKM menjadi semakin terbuka.
Sektor UMKM yang Berpotensi Laris
Kementerian UMKM memperkirakan beberapa sektor usaha akan menjadi primadona selama periode Lebaran. Produk yang berkaitan dengan kebutuhan hari raya dan konsumsi masyarakat diprediksi mengalami peningkatan permintaan.
Adapun Kementerian UMKM memperkirakan sektor unggulan UMKM selama Idul Fitri adalah fesyen serta makanan dan minuman, yang diperkirakan menjadi primadona konsumsi masyarakat.
Produk fesyen biasanya mengalami lonjakan permintaan karena masyarakat mempersiapkan pakaian baru untuk merayakan Hari Raya.
Sementara itu, sektor makanan dan minuman juga diperkirakan meningkat karena tingginya aktivitas konsumsi selama momen Lebaran.
Dukungan Infrastruktur untuk UMKM
Untuk mendukung pertumbuhan UMKM, pemerintah terus mendorong pemanfaatan berbagai infrastruktur publik sebagai ruang usaha bagi pelaku usaha kecil.
Temmy menambahkan pemerintah terus mendorong pemanfaatan infrastruktur publik bagi UMKM.
Kebijakan pemerintah mewajibkan setiap pengelola infrastruktur publik—seperti bandara, terminal, pelabuhan, stasiun, hingga rest area jalan tol—mengalokasikan minimal 30 persen area untuk UMKM.
Ketentuan ini diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2021 sebagai upaya memperluas akses pasar dan memperkuat ekonomi rakyat.
Dengan adanya kebijakan tersebut, pelaku UMKM diharapkan memiliki kesempatan yang lebih luas untuk memasarkan produk mereka kepada masyarakat.
Selain memperkuat akses pasar, langkah ini juga menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis usaha rakyat.
Melalui berbagai peluang yang tercipta selama musim mudik dan perayaan Lebaran, UMKM diharapkan mampu memaksimalkan momentum tersebut untuk meningkatkan omzet dan memperluas jaringan pasar mereka.