Ibas Tekankan Kedaulatan Pangan lewat Dialog Petani di Ngawi Ramadan 2026

Jumat, 27 Februari 2026 | 15:14:48 WIB
Ibas Tekankan Kedaulatan Pangan lewat Dialog Petani di Ngawi Ramadan 2026

JAKARTA - Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) membuka rangkaian reses bulan Ramadan 2026 dengan berdialog bersama petani, penyuluh pertanian, serta petani milenial dan Gen Z di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Dalam pertemuan ini, Ibas menegaskan bahwa kedaulatan pangan merupakan fondasi utama kekuatan bangsa dan syarat mutlak kemerdekaan sejati.

Dialog ‘Petani Kuat, Pangan Berdaulat, Rakyat Bahagia’

Dalam acara bertajuk Petani Kuat, Pangan Berdaulat, Rakyat Bahagia, Ibas membuka diskusi dengan menegaskan pentingnya sektor pertanian dalam menghadapi tantangan global modern. Ia menyampaikan bahwa ketidakpastian iklim, krisis pangan global, serta gangguan distribusi menjadi ancaman nyata yang harus diantisipasi oleh bangsa Indonesia.

Ibas kemudian mengutip data Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) yang menunjukkan lebih dari 700 juta orang di dunia masih mengalami rawan pangan. Ia menegaskan Indonesia tidak boleh termasuk dalam angka tersebut dan harus terus memperkuat sistem pangan dalam negeri.

Lebih jauh, Ibas menyampaikan bahwa produksi beras nasional pada 2025 mencapai sekitar 34 sampai 35 juta ton, meningkat lebih dari 10 persen dibanding tahun sebelumnya. Luas panen nasional kini mencapai lebih dari 11 juta hektare, dan sektor pertanian menyerap lebih dari 29 persen tenaga kerja nasional.

Tantangan Kesejahteraan Petani dan Nilai Tukar Petani

Meskipun begitu, Ibas mengakui bahwa masih ada tantangan signifikan yang harus dihadapi, terutama terkait kesejahteraan petani. Ia menyebut nilai tukar petani (NTP) yang masih fluktuatif di kisaran angka 110 sampai 120 menunjukkan kesejahteraan belum sepenuhnya stabil. Tantangan ini, menurutnya, perlu menjadi perhatian bersama pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.

Dalam dialog tersebut, Ibas juga menyerap aspirasi petani terkait persoalan distribusi pupuk, harga gabah saat panen raya, perbaikan sistem irigasi, keterbatasan alat dan mesin pertanian, serta akses permodalan. Ia menjelaskan bahwa aspirasi tersebut menjadi masukan penting dalam penyusunan kebijakan yang berpihak pada petani.

Ibas menegaskan bahwa penguatan harga dan stabilitas pasar hasil pertanian mesti menjadi fokus agar petani memiliki posisi tawar yang lebih kuat saat musim panen tiba.

Dorongan untuk Nilai Tambah Produk dan Diversifikasi

Dalam pertemuan di Ngawi, Ibas menilai bahwa daerah tersebut bukan hanya sekedar lumbung pangan yang bergantung pada padi, tetapi harus mampu “naik kelas”. Ibas mendorong petani untuk mengembangkan komoditas bernilai tambah seperti jagung hibrida, kedelai lokal, hortikultura, peternakan terpadu, pertanian organik, serta beras premium yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

Menurut Ibas, pengembangan sektor pertanian yang memberikan nilai tambah dapat membantu meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus menguatkan kedaulatan pangan nasional. Petani tidak cukup hanya memproduksi komoditas mentah; tetapi harus masuk dalam rantai nilai produksi yang lebih tinggi.

Ibas pun memaparkan sejumlah bentuk bantuan yang sudah direalisasikan di Ngawi, seperti pompa air, traktor roda empat dan dua, handsprayer, power thresher, corn sheller, bioflok, unit pengolah pupuk organik, dan vitalisasi tambak. Ia menyatakan bahwa bantuan tersebut harus terus dilakukan sebagai bentuk keberpihakan nyata kepada petani.

MBG dan Peran Koperasi Desa di Sistem Rantai Pasok

Ibas juga menyinggung program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diyakini membuka peluang besar bagi petani lokal. Ia menjelaskan bahwa kebutuhan beras nasional dari program tersebut diperkirakan mencapai ratusan ribu ton per bulan. Hal ini menjadi peluang strategis bagi petani Ngawi untuk memasukkan beras lokal dalam rantai pasok sekolah dan kebutuhan masyarakat.

Selain beras, komoditas seperti sayur, telur, dan daging yang dihasilkan dari desa dapat masuk dalam sistem rantai pasok tersebut, sehingga pasar terjamin dan harga relatif lebih stabil untuk petani.

Ibas menegaskan bahwa koperasi desa dan sistem pemasaran melalui unit-unit lokal harus diperkuat agar manfaat program ini dapat dirasakan secara langsung oleh petani di tingkat akar rumput.

Ajak Generasi Muda Masuk ke Pertanian dan Refleksi Ramadan

Selama dialog, Ibas juga mengajak generasi muda, mulai dari Gen Z hingga Gen Alpha, untuk melihat sektor pertanian sebagai profesi modern dan menjanjikan. Ia menekankan bahwa pertanian saat ini bukan lagi sekadar “cangkul” tetapi telah memasuki era teknologi digital, termasuk penggunaan drone, sensor tanah, aplikasi digital, dan marketplace online.

Ibas mendorong anak muda untuk menjadi agropreneur, eksportir, atau bahkan CEO dalam bidang pertanian melalui pendekatan smart farming dan precision agriculture.

Mengakhiri pertemuan, Ibas memberikan refleksi terkait nilai-nilai Ramadan. Ia menyampaikan bahwa kerja keras petani mencerminkan spiritualitas puasa: menanam dalam diam dan menuai dengan syukur. Ia menegaskan optimisme terhadap masa depan pertanian di Ngawi dan seluruh Indonesia, dengan pesan singkat bahwa petani yang kuat akan menghasilkan kedaulatan pangan, negeri yang kuat, dan rakyat bahagia.

Terkini