Harga Batu Bara Menguat Dipicu Dinamika Pasokan Domestik dan RKAB 2026

Jumat, 27 Februari 2026 | 11:45:57 WIB
Harga Batu Bara Menguat Dipicu Dinamika Pasokan Domestik dan RKAB 2026

JAKARTA - Pergerakan harga batu bara global kembali menunjukkan dinamika yang menarik pada Kamis, 26 Februari 2026. 

Di tengah berbagai sentimen eksternal, perhatian pelaku pasar justru tertuju pada kondisi pasokan domestik Indonesia yang memengaruhi ekspektasi suplai ke depan. Kombinasi antara stok pembangkit yang menipis dan ketidakpastian kebijakan produksi menjadi faktor penting dalam pembentukan harga.

Harga batu bara acuan mayoritas bergerak menguat pada Kamis, 26 Februari 2026, di tengah dinamika pasokan domestik Indonesia dan proyeksi produksi global. Kontrak Newcastle untuk Februari 2026 terkoreksi USD0,4 menjadi USD115,8 per ton.

Walau begitu, kontrak Maret 2026 naik USD0,35 ke level USD117,6 per ton dan April 2026 menguat USD0,5 menjadi USD119,15 per ton. Pergerakan ini menunjukkan kecenderungan penguatan pada tenor yang lebih panjang meskipun kontrak terdekat mengalami koreksi tipis.

Di pasar Rotterdam, harga Februari 2026 tercatat stabil di USD106,5 per ton. Kontrak Maret 2026 turun USD0,35 menjadi USD106,7 per ton, sementara April 2026 naik USD0,2 ke level USD107,55 per ton. Pola ini mencerminkan pergerakan yang relatif terbatas dengan kecenderungan stabil hingga menguat tipis pada pengiriman dua bulan ke depan.

Pergerakan Harga di Pasar Internasional

Kenaikan harga pada kontrak berjangka yang lebih panjang menunjukkan adanya ekspektasi pasar terhadap potensi pengetatan suplai dalam beberapa bulan mendatang. Meskipun kontrak terdekat di Newcastle mengalami koreksi tipis, tren keseluruhan masih mengarah pada penguatan bertahap.

Respons pasar Rotterdam yang cenderung stabil memperlihatkan bahwa dinamika di Eropa tidak seagresif pergerakan di kawasan Asia Pasifik. Hal ini mencerminkan perbedaan sensitivitas terhadap kondisi pasokan Indonesia dan proyeksi produksi global.

Pergerakan harga yang terbatas namun cenderung menguat tipis mengindikasikan pasar masih menunggu kepastian arah kebijakan produksi dan distribusi batu bara dari negara produsen utama. Dalam konteks ini, Indonesia memegang peranan penting sebagai salah satu eksportir terbesar dunia.

Dengan demikian, setiap perubahan kebijakan domestik maupun gangguan distribusi berpotensi langsung memengaruhi sentimen harga global, terutama pada kontrak berjangka di Newcastle yang menjadi acuan utama kawasan Asia.

Tekanan Pasokan Domestik

Sentimen utama yang mempengaruhi harga datang dari kondisi pasokan domestik Indonesia. Berdasarkan laporan BigMint, sejumlah pembangkit listrik tenaga uap menghadapi risiko kekurangan bahan bakar dengan tingkat persediaan yang menipis.

Anggota Dewan Pengawas Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia Joseph Pangalila, menyatakan stok batu bara di sebagian besar PLTU hanya mencukupi sekitar 10 hari konsumsi. Angka ini berada jauh di bawah standar operasional yang mewajibkan cadangan minimal 25 hari operasi tanpa tambahan pasokan.

Menurut Joseph, sebagian besar pembangkit memiliki stok di bawah 10 hari dan hanya sedikit yang memiliki pasokan lebih dari 10 hari. Bahkan di sistem Jawa-Bali, hanya dua pembangkit yang masih mempertahankan persediaan hingga 25 hari.

Ia menyebut kondisi tersebut sudah kritis dan masih bergantung pada alokasi berdasarkan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya tahun sebelumnya. Ketergantungan pada alokasi lama membuat ruang gerak distribusi menjadi terbatas.

Ketidakpastian RKAB dan Risiko Distribusi

Ketidakpastian persetujuan RKAB 2026 menjadi faktor penting dalam dinamika suplai. RKAB menetapkan volume produksi, penjualan domestik, dan ekspor yang diperbolehkan bagi produsen batu bara.

Jika persetujuan RKAB 2026 tertunda hingga akhir Maret, sebagian pemasok berpotensi menghentikan pengiriman kepada produsen listrik swasta karena kuota produksi yang belum ditetapkan. Kondisi ini berpotensi memperketat pasokan untuk pembangkit listrik dalam negeri.

Situasi tersebut memperbesar risiko terganggunya rantai pasok energi, terutama jika tidak ada kepastian regulasi dalam waktu dekat. Pasar pun merespons potensi risiko ini dengan penyesuaian harga pada kontrak berjangka.

Ekspektasi pengetatan suplai inilah yang mendorong penguatan harga pada tenor Maret dan April 2026. Pelaku pasar memperhitungkan kemungkinan gangguan distribusi jika persetujuan administrasi belum diterbitkan.

Struktur Harga DMO dan Kebijakan Produksi

Di sisi harga domestik, struktur domestic market obligation turut mempengaruhi distribusi suplai. Harga DMO untuk pembangkit listrik ditetapkan USD70 per ton untuk kalori 6.322 kcal/kg GAR dan tidak mengalami perubahan sejak 2018.

Sementara itu, DMO untuk pabrik semen berada di level USD90 per ton dan untuk smelter mengikuti harga pasar. Perbedaan harga ini memengaruhi prioritas distribusi pemasok, di tengah kenaikan biaya produksi yang tidak diikuti penyesuaian harga DMO pembangkit.

Di sisi kebijakan produksi, pemerintah berencana memangkas produksi batu bara nasional menjadi sekitar 600 juta ton pada 2026, lebih rendah dibanding realisasi 2025 yang mencapai 790 juta ton.

Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia menyebut pemangkasan produksi bervariasi dan dapat mencapai 40 persen hingga 70 persen pada beberapa pelaku usaha. Pada saat yang sama, pemerintah juga berencana meningkatkan porsi DMO dari 25 persen menjadi di atas 30 persen.

Kombinasi antara rencana penurunan produksi, peningkatan porsi DMO, serta ketidakpastian persetujuan RKAB membentuk ekspektasi pasar terhadap potensi pengetatan pasokan domestik. Hal ini tercermin pada kecenderungan penguatan harga batu bara untuk kontrak pengiriman mendatang, terutama di pasar Newcastle.

Sementara itu, pergerakan harga di Rotterdam relatif stabil, mencerminkan respons pasar Eropa yang lebih moderat terhadap dinamika suplai Indonesia dan kebijakan produksi global.

Terkini