BMKG Perkirakan Hujan Masih Berlanjut Hingga Pertengahan Februari Dua Ribu Dua Puluh Enam

Rabu, 11 Februari 2026 | 18:40:29 WIB
BMKG Perkirakan Hujan Masih Berlanjut Hingga Pertengahan Februari Dua Ribu Dua Puluh Enam

JAKARTA - Cuaca basah belum sepenuhnya meninggalkan sebagian besar wilayah Indonesia. 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG menyampaikan bahwa potensi hujan dengan berbagai intensitas masih akan mewarnai kondisi atmosfer nasional hingga pertengahan Februari 2026. Situasi ini menuntut kewaspadaan masyarakat karena hujan tidak hanya berdampak pada aktivitas harian, tetapi juga berpotensi memicu bencana hidrometeorologi di sejumlah daerah rawan.

BMKG menilai bahwa dinamika atmosfer, baik yang bersumber dari pengaruh global maupun regional, masih aktif dan saling berinteraksi. Kondisi tersebut membuat hujan ringan hingga lebat diperkirakan masih terjadi hingga 16 Februari 2026. 

Informasi ini disampaikan sebagai bentuk peringatan dini agar masyarakat dapat menyesuaikan perencanaan kegiatan dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi cuaca ekstrem.

Pengaruh Monsun Asia Masih Dominan

Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan bahwa dalam sepekan ke depan sistem atmosfer dari skala global hingga lokal masih berperan besar terhadap cuaca di Indonesia. Salah satu faktor utama adalah monsun Asia yang diprakirakan masih memberikan pengaruh kuat. Kondisi ini diprediksi setidaknya berlangsung hingga dasarian kedua Februari.

"Monsun Asia diprakirakan masih akan memberikan pengaruh kuat terhadap kondisi cuaca di Indonesia, paling tidak hingga dasarian kedua Februari," ujar Andri dalam keterangannya, Rabu. Pengaruh monsun ini membuat suplai massa udara basah ke wilayah Indonesia tetap signifikan dan mendukung pembentukan awan hujan.

Wilayah Waspada Hujan Sedang Hingga Lebat

BMKG memetakan sejumlah wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan selama periode 10–16 Februari 2026. Daerah-daerah tersebut diprakirakan berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Wilayah yang dimaksud meliputi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, serta Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

Selain itu, potensi serupa juga diperkirakan terjadi di Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Utara. BMKG juga mencatat wilayah Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, serta Papua Selatan sebagai daerah yang perlu mewaspadai peningkatan curah hujan dalam periode yang sama.

Potensi Cuaca Ekstrem Masih Mengintai

Tidak hanya hujan lebat, BMKG juga mengingatkan adanya potensi cuaca ekstrem yang dapat menyertai. Andri Ramdhani menuturkan bahwa hujan dengan intensitas lebat berpeluang disertai kilat atau petir serta angin kencang. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko terjadinya bencana seperti pohon tumbang, gangguan transportasi, hingga kerusakan infrastruktur.

"Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang dapat terjadi," tutur Andri. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak mengabaikan peringatan cuaca dan tetap mengikuti perkembangan informasi resmi dari BMKG.

Faktor Atmosfer Pemicu Hujan

BMKG memantau adanya pergerakan seruakan dingin atau cold surge yang seiring dengan penguatan monsun Asia. Fenomena ini berkontribusi pada peningkatan intensitas hujan, khususnya di wilayah Indonesia bagian selatan. Selain itu, angin utara dan indeks cross equatorial northerly surge atau CENS terpantau berada pada kategori tinggi.

"Oleh karena itu, potensi cuaca di wilayah Indonesia bagian selatan diprakirakan akan mengalami peningkatan yang signifikan untuk terjadinya hujan dengan intensitas yang cukup tinggi," jelas Andri. Faktor-faktor ini menunjukkan bahwa sistem atmosfer masih sangat aktif dan dinamis.

Peran Fenomena Global dan Gelombang Atmosfer

Pada skala global, El Nino–Southern Oscillation atau ENSO saat ini berada pada fase La Nina lemah. Kondisi tersebut memicu peningkatan curah hujan, terutama di wilayah timur Indonesia. Selain itu, BMKG memprediksi terbentuknya sirkulasi siklonik di Samudra Hindia barat Aceh, Samudra Hindia barat Lampung, dan Laut Coral.

Sistem ini menginduksi terbentuknya daerah konvergensi di sejumlah perairan, yang turut mendukung pembentukan awan hujan. Gelombang Kelvin juga terdeteksi aktif di Sumatera bagian selatan, sebagian besar Jawa, Kalimantan bagian selatan dan utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, serta Papua Selatan. Sementara gelombang Rossby ekuator terpantau aktif di sebagian besar wilayah Indonesia dalam sepekan ke depan.

Imbauan Kewaspadaan dan Langkah Mitigasi

BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu banjir, tanah longsor, dan banjir rob. Kondisi cuaca yang berubah cepat diharapkan menjadi perhatian dalam perencanaan aktivitas, terutama perjalanan darat, laut, dan udara, serta kegiatan luar ruang seperti ibadah dan wisata.

Sebagai langkah mitigasi, BMKG juga melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca di beberapa wilayah rawan bencana. Operasi ini difokuskan untuk mengurangi potensi hujan ekstrem dan mendukung percepatan penanganan dampak bencana. BMKG turut berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan pemerintah daerah, termasuk di Jakarta dan Jawa Barat, guna mengantisipasi risiko banjir akibat cuaca ekstrem.

Terkini