JAKARTA - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli baru-baru ini mengungkapkan pentingnya penerapan lima strategi utama untuk memperkuat budaya keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di dunia usaha serta industri nasional.
Strategi ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan produktif bagi seluruh pekerja.
Dalam keterangannya yang diterima di Kuala Lumpur, Malaysia, Yassierli menegaskan bahwa penguatan budaya K3 bukan hanya soal kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga tentang perubahan mindset di setiap tingkatan organisasi.
Lima Strategi Utama untuk Budaya K3 yang Lebih Kuat
Kelima strategi utama yang ditekankan oleh Menaker Yassierli adalah edukasi, keterlibatan pekerja, perbaikan sistem dan teknologi keselamatan, penegakan aturan, dan evaluasi berkelanjutan.
Dalam hal ini, edukasi menjadi elemen yang sangat penting untuk membentuk pemahaman yang lebih baik tentang K3 di seluruh level organisasi.
Semua pihak, baik pekerja maupun manajemen, harus terus-menerus diberi pengetahuan terkait risiko dan langkah-langkah pengendalian yang diperlukan untuk menciptakan tempat kerja yang aman.
Strategi kedua, keterlibatan pekerja, menjadi kunci keberhasilan implementasi K3. Yassierli menjelaskan bahwa pekerja tidak hanya harus mematuhi aturan keselamatan, tetapi juga dilibatkan dalam setiap proses pembuatan kebijakan dan prosedur keselamatan.
Keterlibatan mereka memungkinkan terbentuknya budaya keselamatan yang lebih inklusif, di mana setiap orang merasa bertanggung jawab atas keselamatan mereka dan rekan kerja mereka.
Pentingnya Teknologi dan Sistem Keselamatan dalam Peningkatan K3
Selain itu, perbaikan sistem dan teknologi keselamatan juga menjadi sorotan utama. Menaker Yassierli menyatakan bahwa sistem keselamatan yang diterapkan di tempat kerja harus dirancang dengan baik dan dijalankan secara konsisten.
Tidak hanya mengandalkan prosedur manual atau aturan yang telah ditetapkan, tetapi juga memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan pengawasan dan mitigasi risiko.
“Sistem yang baik akan mengurangi kemungkinan terjadinya kecelakaan, karena keselamatan dipandang sebagai hasil dari sistem yang dirancang dan dijalankan secara konsisten,” jelas Yassierli.
Dengan kata lain, perbaikan sistem bukan hanya untuk mengatasi kecelakaan yang sudah terjadi, tetapi juga untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.
Menekan Budaya Menyalahkan dan Mendorong Pelaporan Terbuka
Salah satu tantangan besar dalam implementasi K3 di banyak tempat kerja adalah masih adanya budaya saling menyalahkan setelah terjadinya kecelakaan.
Yassierli menegaskan bahwa kecelakaan kerja umumnya tidak disebabkan oleh satu kesalahan individu, tetapi merupakan hasil dari lemahnya sistem kerja dan prosedur yang ada.
Oleh karena itu, pendekatan keselamatan berbasis manusia yang dipromosikan Menaker menekankan pentingnya budaya pelaporan dan pembelajaran yang terbuka.
Budaya pelaporan yang baik memungkinkan perusahaan untuk belajar dari setiap insiden yang terjadi. Hal ini membantu organisasi untuk mengidentifikasi kelemahan dalam sistem yang ada dan memperbaikinya, sehingga kecelakaan serupa dapat dicegah di masa depan.
Menurut Yassierli, untuk memperkuat budaya K3, perusahaan harus menghilangkan budaya saling menyalahkan dan menggantinya dengan sistem yang lebih kolaboratif dan solusi-oriented.
K3 Sebagai Budaya Kerja Sehari-hari, Bukan Sekadar Kepatuhan
Yassierli mengingatkan bahwa dalam banyak kasus, keselamatan kerja masih dimaknai sebatas kepatuhan terhadap aturan atau standar yang telah ditetapkan. Padahal, K3 harus menjadi bagian dari budaya kerja sehari-hari.
“Keselamatan kerja tidak cukup dimaknai sebagai kepatuhan terhadap aturan. K3 harus menjadi budaya kerja. Manusia harus dipandang sebagai bagian dari solusi, bukan sebagai sumber masalah,” ujar Menaker.
Dengan kata lain, K3 seharusnya bukan hanya menjadi sekadar rutinitas yang harus diikuti, tetapi harus menjadi bagian dari mindset dan cara berpikir setiap pekerja.
Semua pihak di dalam organisasi, mulai dari manajer hingga pekerja lapangan, harus memiliki kesadaran yang tinggi tentang pentingnya menjaga keselamatan dan kesehatan kerja di setiap aktivitas yang mereka lakukan.
Membangun Sistem Keselamatan yang Berkelanjutan
Menurut Menaker, penerapan sistem keselamatan yang baik tidak bisa dilakukan setengah hati. Perbaikan harus dilakukan secara berkelanjutan dan terus-menerus untuk memastikan bahwa sistem keselamatan tetap efektif menghadapi perubahan dan tantangan yang ada di lapangan.
Perbaikan sistem dan teknologi yang terus-menerus ini menjadi salah satu elemen utama dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan terhindar dari kecelakaan.
“Kesalahan manusia bukan penyebab utama kecelakaan, tetapi menjadi tanda adanya kelemahan dalam sistem. Karena itu, perbaikan sistem harus dilakukan secara terus-menerus,” tegas Menaker.
Oleh karena itu, setiap organisasi harus melihat keselamatan sebagai hal yang dinamis dan terus berkembang, bukan sebagai sesuatu yang bisa dicapai sekali saja dan selesai.
Evaluasi Berkelanjutan untuk Memastikan K3 Tetap Relevan
Selain itu, evaluasi berkelanjutan juga menjadi strategi penting yang harus diterapkan untuk memastikan bahwa budaya K3 tetap relevan dengan perkembangan industri dan kebutuhan pekerja.
Menaker menekankan bahwa evaluasi yang rutin dapat membantu perusahaan untuk mengidentifikasi dan menanggulangi masalah yang muncul dalam sistem K3 yang ada. Evaluasi ini tidak hanya berlaku untuk prosedur dan peraturan yang ada, tetapi juga untuk implementasi teknologi keselamatan yang diterapkan.
Dengan adanya evaluasi berkelanjutan, perusahaan dapat memastikan bahwa sistem K3 yang ada selalu sesuai dengan kondisi terkini dan mampu mengatasi risiko yang muncul di tempat kerja.
Evaluasi ini juga membantu memperbaiki kekurangan dalam sistem yang sudah ada dan memastikan bahwa kecelakaan kerja bisa terus diminimalkan.