Investasi Otomotif Rp194,22 Triliun Serap Hampir 100 Ribu Tenaga Kerja Nasional

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:59:24 WIB
Investasi Otomotif Rp194,22 Triliun Serap Hampir 100 Ribu Tenaga Kerja Nasional

JAKARTA - Industri otomotif kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia. 

Di tengah dinamika ekonomi global, sektor ini tetap menunjukkan daya tahan sekaligus kontribusi nyata terhadap pertumbuhan nasional, terutama dari sisi investasi dan penciptaan lapangan kerja. Pemerintah pun menilai geliat industri otomotif menjadi indikator penting keberlanjutan sektor manufaktur dalam negeri.

Hal tersebut ditegaskan langsung oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita saat memberikan sambutan pada pembukaan Indonesia International Motor Show atau IIMS 2026. Acara yang digelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis 5 Februari 2026, menjadi momentum untuk memaparkan capaian strategis sektor otomotif nasional hingga saat ini.

Peran Strategis Industri Otomotif Nasional

Menteri Perindustrian menekankan bahwa industri otomotif memiliki peran yang sangat strategis dalam struktur ekonomi Indonesia. Tidak hanya sebagai sektor manufaktur unggulan, otomotif juga menjadi penggerak berbagai industri turunan yang saling terhubung dalam rantai pasok nasional.

“Sektor otomotif ini sangat penting karena juga menyerap hampir 100 ribu tenaga kerja langsung, belum lagi yang tidak langsung, dengan nilai investasi sampai hari ini Rp194,22 triliun,” ungkap Menperin Agus. Pernyataan tersebut menggambarkan besarnya kontribusi sektor ini, baik dari sisi ketenagakerjaan maupun realisasi modal yang telah ditanamkan.

Angka tersebut menunjukkan bahwa industri otomotif tidak sekadar berorientasi pada produksi kendaraan, tetapi juga menciptakan ekosistem industri yang luas dan berkelanjutan.

Serapan Tenaga Kerja yang Signifikan

Salah satu poin utama yang disoroti Menperin adalah kemampuan industri otomotif dalam menyerap tenaga kerja. Hingga kini, hampir 100 ribu tenaga kerja langsung terserap di sektor ini, belum termasuk tenaga kerja tidak langsung yang jumlahnya diperkirakan jauh lebih besar.

Lapangan kerja tersebut tersebar mulai dari lini produksi, perakitan, hingga sektor pendukung seperti logistik, komponen, distribusi, dan layanan purnajual. Kondisi ini menjadikan industri otomotif sebagai salah satu sektor dengan dampak sosial ekonomi paling luas.

Penyerapan tenaga kerja yang tinggi juga menjadi indikator bahwa industri otomotif memiliki struktur yang relatif padat karya, sekaligus berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat di berbagai daerah.

Nilai Investasi Capai Rp194,22 Triliun

Selain tenaga kerja, nilai investasi yang mencapai Rp194,22 triliun menjadi bukti kepercayaan investor terhadap prospek industri otomotif Indonesia. Menperin menilai, angka tersebut mencerminkan komitmen jangka panjang pelaku industri dalam mengembangkan basis produksi di Tanah Air.

Investasi ini mencakup pembangunan pabrik, pengembangan teknologi, hingga peningkatan kapasitas produksi kendaraan bermotor. Dengan nilai investasi sebesar itu, Indonesia dinilai memiliki fondasi yang kuat untuk terus bersaing di pasar otomotif regional maupun global.

Menperin menegaskan bahwa realisasi investasi tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan akan terus memicu aktivitas ekonomi lainnya.

Multiplier Effect Bagi Perekonomian

Lebih lanjut, Agus Gumiwang menjelaskan bahwa investasi besar di sektor otomotif akan melahirkan multiplier effect yang signifikan bagi perekonomian nasional. Hal ini karena industri otomotif memiliki keterkaitan yang sangat kuat, baik ke depan maupun ke belakang.

“Investasi ini pasti akan melahirkan multiplier effect yang besar bagi perekonomian, karena sektor otomotif merupakan sektor yang terbesar dengan forward linkage dan backward linkage yang sangat kuat,” jelasnya.

Keterkaitan ke belakang terlihat dari kebutuhan bahan baku dan komponen, sementara keterkaitan ke depan tercermin dari distribusi kendaraan, layanan purnajual, hingga sektor pembiayaan. Seluruh rantai ini bergerak secara simultan dan saling menguatkan.

Kontribusi Terhadap Kinerja Manufaktur

Menperin juga menyoroti kontribusi sektor otomotif terhadap kinerja industri manufaktur nasional secara keseluruhan. Menurutnya, capaian positif manufaktur Indonesia selama ini tidak terlepas dari peran besar industri otomotif, khususnya kendaraan bermotor.

Sektor ini menjadi penggerak utama pertumbuhan manufaktur, baik untuk kendaraan roda empat maupun roda dua dan tiga. Stabilitas dan kapasitas produksi yang besar menjadikan otomotif sebagai penopang utama kinerja industri nasional.

“Kinerja manufaktur ini tidak terlepas dan bahkan penggerak utamanya adalah software otomotif yang meliputi industri kendaraan bermotor,” tegas Agus.

Kapasitas Produksi Kendaraan Bermotor

Dalam pemaparannya, Menperin mengungkapkan bahwa saat ini Indonesia memiliki 41 pabrikan kendaraan bermotor roda empat. Total kapasitas produksi pabrikan tersebut mencapai hampir 2,6 juta unit per tahun, menunjukkan skala industri yang sangat besar.

Sementara itu, untuk kendaraan bermotor roda dua dan tiga, terdapat 82 pabrikan dengan kapasitas produksi mencapai 11,2 juta unit per tahun. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu basis produksi kendaraan bermotor terbesar di kawasan.

Kapasitas produksi yang tinggi tersebut menjadi modal penting untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik sekaligus memperkuat ekspor kendaraan buatan Indonesia.

Prospek dan Tantangan Ke Depan

Dengan nilai investasi yang terus tumbuh dan serapan tenaga kerja yang besar, industri otomotif dinilai memiliki prospek cerah ke depan. Namun demikian, Menperin mengingatkan pentingnya menjaga iklim investasi, konsistensi kebijakan, serta penguatan industri pendukung agar sektor ini tetap kompetitif.

Pemerintah berkomitmen untuk terus mendorong pengembangan industri otomotif nasional agar mampu memberikan kontribusi maksimal bagi perekonomian. Melalui sinergi antara pemerintah dan pelaku industri, sektor otomotif diharapkan tetap menjadi motor pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.

Terkini