JAKARTA - Sorotan tajam selalu mengiringi posisi penyerang dalam sepak bola modern.
Tugas mencetak gol membuat seorang striker kerap ditempatkan di pusat ekspektasi, terlebih ketika ia datang dengan harga mahal, reputasi besar, serta hype yang masif. Namun realitas di lapangan tidak selalu sejalan dengan narasi indah sebelum musim dimulai. Tahun 2026 kembali menghadirkan sejumlah penyerang yang performanya justru memunculkan tanda tanya.
Di berbagai liga top Eropa, kegagalan striker memenuhi harapan bukanlah cerita baru. Klub-klub elite seperti Manchester United, Barcelona, hingga Juventus pernah merasakan pahitnya ekspektasi yang tak terbayar. Nama besar dan banderol fantastis ternyata tidak selalu identik dengan kontribusi nyata di atas lapangan hijau.
Sejumlah penyerang dianggap tampil di bawah bayang-bayang reputasi mereka sendiri. Julukan overrated muncul bukan tanpa alasan, melainkan dari perbandingan antara harapan publik dengan performa aktual sepanjang musim 2026 yang berjalan.
Fenomena ini sekaligus menegaskan bahwa sepak bola tidak sesederhana membeli pencetak gol. Banyak faktor lain yang memengaruhi performa, mulai dari sistem permainan, usia, hingga tekanan di klub besar yang tidak semua pemain mampu mengatasinya dengan baik.
Ekspektasi Tinggi Tak Selalu Sejalan
Dalam sepak bola modern, striker sering dijadikan tolok ukur keberhasilan sebuah tim. Gol menjadi mata uang utama, dan kegagalan mencetaknya dapat berujung kritik tajam. Tidak sedikit klub berharap satu penyerang bisa menjadi solusi instan atas masalah produktivitas.
Namun kenyataannya, ekspektasi tersebut kerap terlalu tinggi sejak awal. Ketika performa di lapangan tidak sesuai gambaran, label overrated pun dengan mudah melekat. Situasi ini sering kali tidak adil, tetapi menjadi konsekuensi dari sorotan besar yang menyertai posisi striker.
Robert Lewandowski Dan Realitas Usia
Robert Lewandowski tak diragukan sebagai salah satu striker terhebat sepanjang masa. Hanya Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo yang mencetak lebih banyak gol di lima liga utama Eropa. Warisan sang veteran jelas tidak perlu diperdebatkan lagi.
Namun pada usia 37 tahun, perannya di Barcelona mulai menimbulkan diskusi. Lewandowski masih produktif dengan sembilan gol dari 16 laga La Liga dan sempat mencetak gol di El Clasico. Meski demikian, serangan Barcelona asuhan Hansi Flick dinilai lebih cair ketika ia tidak berada di lapangan.
Ferran Torres tetap produktif dan terlihat lebih selaras dengan Raphinha serta Lamine Yamal. Pada tahap karier saat ini, muncul anggapan bahwa Lewandowski mungkin lebih cocok mencari tantangan baru, termasuk opsi hijrah ke MLS yang mulai ramai dibicarakan.
Evan Ferguson Dan Potensi Yang Tertahan
Evan Ferguson sempat dipandang sebagai prospek emas Brighton dan calon penjualan mahal berikutnya. Usianya yang masih 21 tahun membuat banyak pihak yakin ia akan berkembang pesat. Hat-trick melawan Newcastle pada 2023 menjadi bukti potensi besar yang dimilikinya.
Sayangnya, perjalanan Ferguson setelah itu tidak berjalan mulus. Masa peminjaman setengah musim ke West Ham berakhir mengecewakan, sementara tantangan bersama AS Roma juga tidak memberi dampak signifikan. Bahkan Gian Piero Gasperini terdengar frustrasi.
“Dia harus membuktikan diri di lapangan dan penampilannya belum positif,” ujar Gasperini. “Sejujurnya, kemarin adalah pertama kalinya saya melihatnya berlatih dengan benar.” Pernyataan itu menggambarkan betapa jauh Ferguson dari ekspektasi besar yang pernah disematkan.
Mateo Retegui Dan Kutukan Penyerang Italia
Italia sudah lama kesulitan menemukan penyerang yang benar-benar konsisten di level internasional. Munculnya Mateo Retegui sempat membawa angin segar, terlebih setelah ia menjuarai daftar top skor Serie A dengan 25 gol.
Namun kepindahannya ke Liga Arab Saudi justru menimbulkan tanda tanya. Di kompetisi tersebut, Retegui kalah tajam dibandingkan Joao Felix, Ivan Toney, hingga Josh King. Fakta ini membuat banyak pihak menilai performa impresifnya sebelumnya tidak sepenuhnya berkelanjutan.
Situasi ini kembali menegaskan adanya semacam kutukan striker Italia. Produktif di liga, tetapi kesulitan mempertahankan level saat berpindah kompetisi dan sistem permainan yang berbeda.
Benjamin Sesko Dan Langkah Terlalu Dini
Benjamin Sesko memiliki semua atribut fisik yang diidamkan pencari bakat. Tubuh jangkung, kecepatan, serta potensi besar membuatnya sering dibandingkan dengan Erling Haaland. Namun kenyataannya, meniru jalur karier Haaland bukan perkara mudah.
Manchester United melepas Rasmus Hojlund dan merekrut Sesko, langkah yang dinilai hanya menukar satu pemain mentah dengan pemain mentah lainnya. Pada usia muda, tekanan bermain di klub sebesar MU dinilai datang terlalu cepat.
Alih-alih berkembang, Sesko justru masuk dalam daftar striker overrated karena performanya belum mencerminkan potensi yang digembar-gemborkan sejak awal kedatangannya.
Viktor Gyokeres Dan Ilusi Produktivitas
Viktor Gyokeres mencetak hampir seratus gol dalam dua musim bersama Sporting di Portugal. Catatan tersebut membuat Arsenal tergoda untuk merekrutnya. Namun performanya di Premier League justru memunculkan kesan berbeda.
Secara visual dan statistik, Gyokeres terlihat seperti penyerang kelas menengah. Sejarah juga mencatat banyak top skor Liga Portugal gagal bersinar di liga lain, mulai dari Mario Jardel hingga Darwin Nunez.
Sangat sedikit penyerang dari Portugal yang sukses di tempat lain, dan Gyokeres tampaknya berpotensi menambah daftar panjang tersebut.
Pelajaran Dari Label Overrated
Label overrated bukan berarti seorang pemain sepenuhnya buruk. Istilah ini lebih menggambarkan jarak antara ekspektasi dan realitas. Dalam sepak bola modern, hype sering kali tumbuh lebih cepat dibanding proses adaptasi pemain.
Tahun 2026 kembali menjadi pengingat bahwa reputasi besar tidak otomatis menjamin performa konsisten. Tanpa kesabaran, sistem tepat, dan timing karier yang pas, bahkan striker ternama pun bisa terlihat memble di lapangan.