Breaking

IHSG Berpotensi Uji Level 5.500, Cek Rekomendasi Saham Berikut

AK
Akbar

Editor: Mazroh Atul Jannah

Minggu, 07 Juni 2026
IHSG Berpotensi Uji Level 5.500, Cek Rekomendasi Saham Berikut
Ilustrasi IHSG (Foto: NET)

JAKARTA – Pasar modal Indonesia menghadapi tekanan signifikan dalam satu minggu terakhir. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot ke posisi terendah dalam kurun waktu lima tahun terakhir, sementara nilai tukar rupiah menembus level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Sebagai informasi, IHSG berakhir melemah 245,02 poin atau 4,2 persen ke angka 5.594 saat penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026). Dalam sepekan, IHSG tercatat mengalami koreksi tajam sebesar 8,73 persen. Penurunan ini disertai dengan aksi jual bersih oleh investor asing sebesar Rp 13,78 triliun pada periode tersebut.

Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyampaikan bahwa koreksi IHSG tergolong signifikan dan masih dipengaruhi oleh tekanan jual yang cukup besar. Dari aspek sentimen, Herditya menyoroti aliran keluar dana asing secara tahun berjalan yang telah mencapai Rp 57,63 triliun. Di sisi lain, kurs rupiah terhadap dolar AS mengalami pelemahan 1,3 persen sepanjang pekan ini.

"Pelemahan pasar diperkirakan dipicu oleh menurunnya kepercayaan investor global terhadap kebijakan yang terjadi di Indonesia," kata Herditya, kepada Kontan, Jumat (5/6/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sementara itu, Head of Research and Education Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan, menambahkan bahwa adanya ketidakpastian kebijakan pemerintah serta rumor pasar yang direspons secara negatif kembali meningkatkan tekanan jual di pasar modal domestik. Salah satunya adalah revisi Undang-Undang tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) yang menimbulkan kekhawatiran terkait potensi gangguan pada independensi lembaga keuangan.

Di saat bersamaan, Kementerian Keuangan mencatat realisasi APBN 2026 hingga Mei 2026 mengalami defisit sebesar Rp180,4 triliun atau 0,7 persen dari Produk Domestik Bruto, dibandingkan dengan defisit sebesar Rp20,9 triliun (0,09 persen dari PDB) pada periode yang sama di tahun 2025. Meski begitu, defisit ini masih berada di bawah target sepanjang tahun 2026 yang ditetapkan sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68 persen dari PDB.

Selanjutnya, rupiah ditutup melemah 0,46 persen ke level Rp18,049 per dolar AS. Kondisi rupiah ini memicu spekulasi bahwa Bank Indonesia mungkin akan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) darurat di luar jadwal yang seharusnya berlangsung pada 17–18 Juni 2026.

Untuk perdagangan Senin (8/6/2026), Herditya memprediksi IHSG masih berpotensi melanjutkan pelemahannya dengan level support 5.517 dan resistance 5.734. Menurutnya, sentimen yang terjadi pekan ini diperkirakan akan berlanjut ke pekan depan. Mengenai rekomendasi saham, Herditya menyarankan ANTM dengan target harga Rp 3.020-Rp 3.200, BRMS di rentang Rp 610-Rp 660, dan MBMA dengan target harga Rp 472-Rp 520.

Sementara itu, Valdy menyatakan bahwa investor akan memperhatikan sejumlah data penting pada pekan depan, seperti cadangan devisa Mei 2026 pada Senin (8/6), indeks keyakinan konsumen (consumer confidence) Mei 2026 pada Rabu (10/6/2026), serta data penjualan ritel (retail sales) April 2026 pada Kamis (11/6/2026).

"Di tengah minimnya katalis positif dan di bawah tekanan sentimen negatif, diperkirakan IHSG berpotensi menguji level 5.500 pada pekan depan," jelas Valdy, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua