JAKARTA - Kinerja keuangan yang solid menjadi salah satu indikator utama dalam menilai daya saing sebuah bank di tengah ketatnya industri perbankan nasional.
Sepanjang tahun 2025, Bank Mega menunjukkan performa yang cukup impresif dengan pertumbuhan laba yang signifikan. Capaian ini tidak hanya mencerminkan keberhasilan strategi bisnis yang dijalankan, tetapi juga menempatkan bank tersebut dalam jajaran pemain utama di sektor perbankan Indonesia.
PT Bank Mega Tbk (MEGA) mencatat kinerja yang positif di sepanjang tahun 2025. Dengan meningkatnya kinerja ini, Bank Mega berhasil masuk ke jajaran bank Indonesia dengan perolehan laba terbesar.
Baca JugaKurs Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS Dipicu Lonjakan Harga Minyak Global
Direktur Utama Bank Mega Kostaman Thayib menyebut, pada tahun 2025 Bank Mega memperoleh laba bersih sebesar Rp 3,36 triliun atau meningkat 28% secara tahunan (yoy).
Menurut Kostaman, perolehan laba ini salah satunya ditopang oleh fee based income yang naik 54% (yoy) menjadi Rp 2,79 triliun. Pencapaian laba ini menempatkan Bank Mega ke dalam peringkat 10 besar bank Indonesia dengan laba tertinggi.
Posisi Aset dan Laba Tunjukkan Efisiensi Kinerja Perusahaan
Meski dari sisi aset belum masuk jajaran teratas, Bank Mega mampu menunjukkan efisiensi yang baik dalam menghasilkan keuntungan. Hal ini terlihat dari posisi laba yang jauh lebih tinggi dibandingkan peringkat asetnya.
"Dari sisi aset, Bank Mega ada di posisi nomor 19. Tetapi kalau dari sisi laba bersih, Bank Mega berada di posisi nomor 10 dari seluruh bank yang ada di Indonesia," kata Kostaman.
Adapun total aset Bank Mega di akhir 2025 lalu sebesar Rp140,83 triliun, meningkat 4% dibanding laporan pada tahun sebelumnya.
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit Bank Mega sampai akhir 2025 tercatat sebesar Rp 67,23 triliun atau tumbuh 4% (yoy). Pertumbuhan ini dibarengi dengan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) yang membaik menjadi 1,65%.
Fokus Kredit Korporasi dan Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga
Kostaman menyebut penyaluran kredit Bank Mega di tahun 2025 tetap berfokus di segmen korporasi seperti tahun-tahun sebelumnya.
"Komposisi kredit terdiri dari corporate 69%, joint financing 17%, credit card 10%, retail dan komersial 4%. Dengan titik berat masih berada di kredit korporasi," jelas Kostaman.
Selain itu, pertumbuhan juga terlihat di dana pihak ketiga (DPK) yang menjadi Rp 104,13 triliun di akhir 2025, meningkat 14% (yoy). Komposisi DPK terdiri dari giro sebesar 12%, tabungan sebesar 15%, dan deposito sebesar 73%.
Pertumbuhan DPK ini menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga likuiditas bank sekaligus mendukung ekspansi kredit ke depan.
Rasio Keuangan Tetap Terjaga Meski Ada Tekanan NIM
Rasio-rasio keuangan lain juga tetap dijaga. Rasio permodalan (CAR) berada di level 30,49%, meningkat dari tahun sebelumnya di level 25,77%. Loan to Deposit Ratio (LDR) dijaga pada kisaran 70%. Biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) juga membaik dari 73,61% menjadi 64,48% di akhir 2025.
Akan tetapi, pendapatan bunga bersih (NIM) sedikit tertekan dari 4,64% turun menjadi 4,18% di akhir 2025. Return on Assets (ROA) tercatat sebesar 3,10%, sedangkan Return on Equity (ROE) sebesar 15,54%.
Meskipun terdapat tekanan pada NIM, secara keseluruhan kinerja keuangan Bank Mega masih menunjukkan tren positif dengan perbaikan efisiensi operasional.
Strategi dan Target Pertumbuhan Bank Mega di Tahun 2026
Untuk tahun 2026, Kostaman menyebut strategi banknya adalah menjaga likuiditas dengan mendorong pertumbuhan dana murah. Bank Mega juga akan meningkatkan volume kredit wholesalenya dengan keikutsertaan dalam sindikasi.
Bank Mega juga akan mengakselerasi pertumbuhan kreditnya dengan berfokus pada nasabah berkualitas. Seluruh kantor cabang juga diperkuat untuk memberi pelayanan yang optimal. Di samping itu, Bank Mega akan mengontrol biaya overhead dengan memperkuat digitalisasi.
Kostaman juga mengungkap target Bank Mega untuk tahun 2026 ini. Bank Mega menargetkan pertumbuhan laba bersih sebesar 8%-9%, pertumbuhan aset sebesar 5%-6%, penyaluran kredit sebesar 10%-11%, dan DPK sebesar 6%-7%.
"Untuk kinerja bank tahun 2026, laba bersih diproyeksikan menjadi Rp 3,7 triliun. Aset diproyeksikan naik menjadi Rp 149 triliun. Kredit juga diproyeksikan naik menjadi Rp 74 triliun. Dana pihak ketiga menjadi Rp 111 triliun," jelasnya.
Dengan strategi yang telah disiapkan, Bank Mega optimistis dapat menjaga kinerja positif sekaligus meningkatkan daya saing di industri perbankan nasional.
Sutomo
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Berita Lainnya
Bursa Asia Menguat Pagi Ini Dipicu Harapan Berakhirnya Konflik Iran Global
- Rabu, 01 April 2026
Allo Bank Antisipasi Risiko Kredit dengan Naikkan Impairment Awal Tahun 2026
- Rabu, 01 April 2026












