Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam ke Level 115 Dolar Dipicu Krisis Timur Tengah
- Selasa, 31 Maret 2026
JAKARTA - Kondisi pasar energi global kembali mengalami tekanan signifikan seiring dengan lonjakan harga minyak dunia dalam beberapa hari terakhir.
Kenaikan yang terjadi secara berturut-turut ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar terhadap perkembangan geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah.
Para pelaku pasar kini mencermati dengan cermat setiap dinamika yang terjadi, mengingat gangguan pada jalur distribusi energi dapat berdampak luas terhadap stabilitas ekonomi global.
Baca JugaKomdigi Dorong Infrastruktur Telekomunikasi Bersama Dukung Efisiensi Era WFH Nasional
Lonjakan Harga Minyak Brent dan WTI
Harga minyak mentah dunia kembali menguat untuk hari keempat berturut-turut pada Selasa, didorong oleh kekhawatiran gangguan pasokan akibat konflik yang semakin meluas di kawasan Timur Tengah.
Dikutip dari Reuters, minyak mentah jenis Brent untuk kontrak Mei 2026 pada Selasa pagi naik sebesar 2% atau US$ 2,26 menjadi US$ 115,04 per barel. Kenaikan ini menempatkan Brent menuju lonjakan bulanan terbesar sepanjang sejarah.
Di sisi lain, minyak mentah Amerika Serikat jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei 2026 melonjak 3% atau US$ 3,10 menjadi US$ 105,96 per barel. Ini merupakan level tertinggi sejak 9 Maret 2026, sekaligus mencatat kenaikan bulanan terkuat sejak 2020.
Tekanan Pasokan Global dan Dampaknya
BACA JUGA
Harga Minyak Mentah Menuju Kenaikan Bulanan Tertinggi
ADVERTISEMENT
Lonjakan harga minyak ini dipicu oleh pengetatan pasokan global, terutama setelah Iran secara efektif menutup Selat Hormuz. Jalur ini dikenal sebagai rute vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia dan pengiriman gas alam cair (LNG).
Penutupan jalur strategis tersebut menimbulkan kekhawatiran besar di pasar energi internasional. Gangguan distribusi melalui Selat Hormuz berpotensi menciptakan ketidakseimbangan pasokan global dalam waktu singkat.
Sepanjang Maret 2026, harga Brent telah melonjak 59%, sementara WTI naik 58%. Angka ini menunjukkan adanya tren kenaikan yang sangat signifikan dalam waktu relatif singkat.
Ketegangan Geopolitik Meningkatkan Risiko
Ketegangan geopolitik semakin memanas setelah sebuah kapal tanker minyak milik Kuwait, Al Salmi, dilaporkan diserang di pelabuhan Dubai. Kapal tersebut memiliki kapasitas hingga 2 juta barel minyak.
Insiden ini menambah kekhawatiran akan gangguan distribusi energi melalui jalur laut. Serangan terhadap infrastruktur energi menjadi salah satu faktor yang memperburuk kondisi pasar minyak dunia.
Selain itu, situasi keamanan di kawasan Timur Tengah semakin kompleks dengan meningkatnya intensitas konflik di berbagai titik strategis.
Ancaman di Jalur Laut Strategis Dunia
Selain Selat Hormuz, jalur penting lainnya yang menjadi perhatian adalah Selat Bab el-Mandeb. Kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran dilaporkan meluncurkan serangan rudal ke Israel pada akhir pekan lalu.
Aksi ini meningkatkan risiko gangguan di Selat Bab el-Mandeb, jalur penting yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden. Jalur ini menjadi rute utama perdagangan antara Asia dan Eropa melalui Terusan Suez.
Gangguan pada jalur ini dapat berdampak luas terhadap rantai pasok global, termasuk distribusi energi dan barang dagangan internasional.
Pandangan Analis Pasar Energi
BACA JUGA
Trump Tetap Ngebet Kuasai Minyak Iran meski Buka Jalur Komunikasi
Analis pasar dari KCM Trade, Tim Waterer, menyebut situasi ini sebagai skenario mimpi buruk bagi rantai pasok global. Menurutnya, kombinasi gangguan di dua jalur utama energi dunia dapat menciptakan tekanan besar pada pasar.
Jika Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb terganggu secara bersamaan, dampaknya bisa sangat besar terhadap distribusi energi global. Kondisi ini berpotensi memicu lonjakan harga yang lebih tinggi lagi.
Pasar kini berada dalam kondisi waspada, dengan volatilitas yang meningkat akibat ketidakpastian geopolitik.
Langkah Respons Negara Penghasil Minyak
Sebagai respons terhadap situasi tersebut, Arab Saudi mulai mengalihkan ekspor minyaknya melalui Laut Merah. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kelancaran distribusi energi di tengah gangguan jalur utama.
Volume pengiriman ke pelabuhan Yanbu tercatat mencapai 4,658 juta barel per hari pada pekan lalu. Angka ini menunjukkan adanya upaya signifikan dalam menjaga stabilitas pasokan minyak global.
Diversifikasi jalur distribusi menjadi salah satu strategi penting dalam menghadapi kondisi geopolitik yang tidak menentu.
Prospek Pasar Energi Global ke Depan
Lonjakan harga minyak dunia dalam beberapa hari terakhir mencerminkan sensitivitas pasar terhadap faktor eksternal, terutama konflik geopolitik. Ketergantungan dunia terhadap jalur distribusi tertentu menjadi salah satu titik rawan yang perlu diantisipasi.
Para pelaku pasar diperkirakan akan terus memantau perkembangan situasi di Timur Tengah. Setiap perubahan kondisi dapat memberikan dampak langsung terhadap harga minyak global.
Dengan meningkatnya ketegangan dan risiko gangguan pasokan, pasar energi global diperkirakan masih akan menghadapi volatilitas dalam waktu dekat. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi negara-negara importir energi di seluruh dunia.
Mazroh Atul Jannah
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Jadwal SIM Keliling Bandung Hari Ini Lengkap Lokasi dan Syarat Perpanjangan
- Selasa, 31 Maret 2026
Panduan Lengkap SIM Keliling Jakarta 31 Maret 2026 Lokasi Biaya Terbaru
- Selasa, 31 Maret 2026
Kereta Api Sumut Catat Lonjakan Penumpang Lebaran 2026 Capai Hampir 200 Ribu
- Selasa, 31 Maret 2026
KAI Catat Lonjakan Penumpang Kereta Api Arus Balik Lebaran 2026 Capai Ratusan Ribu
- Selasa, 31 Maret 2026
Perawatan Mobil Listrik Setelah Mudik 2026 Agar Tetap Optimal dan Aman Digunakan
- Selasa, 31 Maret 2026
Berita Lainnya
Harga Pangan Nasional Turun Kompak Cabai Daging Telur Terkoreksi 31 Maret 2026
- Selasa, 31 Maret 2026
Harga Cabai Rawit dan Ayam di PIHPS Menjadi Sorotan Harga Pangan Nasional
- Selasa, 31 Maret 2026
Kerja Sama Bilateral RI-Jepang Fokus pada Investasi Energi Terbarukan Masa Depan
- Selasa, 31 Maret 2026












