JAKARTA - Pergerakan harga emas kembali menunjukkan tanda pemulihan setelah sempat mengalami tekanan dalam beberapa hari terakhir.
Kenaikan ini memberi harapan bagi pelaku pasar yang sebelumnya khawatir. Namun di balik penguatan tersebut, sejumlah risiko masih membayangi. Situasi global membuat arah harga logam mulia tetap penuh ketidakpastian.
Harga emas dan perak mulai pulih tetapi masih berada dalam tekanan pasar. Investor mencermati perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter. Kedua faktor tersebut menjadi penggerak utama harga logam mulia. Perubahan kecil saja dapat memicu volatilitas.
Baca JugaRekomendasi Saham Hari Ini Rabu 25 Maret 2026 IHSG Menguat Positif
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Selasa 24 Maret 2026 ditutup di posisi US$ 4473,59 per troy ons atau melesat 1,54%. Kenaikan ini menjadi sinyal awal pemulihan. Sebelumnya, harga emas mengalami tekanan cukup dalam. Investor mulai kembali masuk ke pasar.
Penguatan tersebut menjadi kabar baik setelah emas tumbang selama sembilan hari beruntun. Penurunan yang terjadi mencapai 15%. Kondisi tersebut membuat banyak pelaku pasar berhati-hati. Pemulihan ini pun disambut positif.
Harga emas masih menguat pada perdagangan hari berikutnya. Pada Rabu 25 Maret 2026 pukul 06.36 WIB, harga emas menguat 0,69%. Nilainya berada di level US$ 4504,49 per troy ons. Kenaikan ini mempertegas tren pemulihan.
Kenaikan emas ditopang adanya potensi melandainya ketegangan di Timur Tengah. Faktor geopolitik sering mempengaruhi harga emas. Ketika konflik mereda, sentimen pasar berubah. Investor kembali menimbang risiko.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pada Selasa 24 Maret 2026 bahwa Amerika Serikat membuat kemajuan dalam upaya menegosiasikan akhir perang dengan Iran, termasuk memperoleh konsesi penting dari Teheran. Seorang sumber juga mengonfirmasi bahwa Washington telah mengirimkan proposal penyelesaian berisi 15 poin kepada Iran.
Trump mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih bahwa AS sedang berbicara dengan orang-orang yang tepat di Iran untuk mencapai kesepakatan guna mengakhiri permusuhan, seraya menambahkan bahwa pihak Iran sangat ingin mencapai kesepakatan.
Hingga kini, Iran masih membantah negosiasi tersebut. Ketidakpastian ini membuat pasar tetap waspada. Pelaku pasar tidak sepenuhnya yakin. Dampaknya terhadap harga emas masih terbuka.
Jika konflik berlanjut, harga energi bisa meningkat. Hal ini berpengaruh terhadap inflasi global. Investor kemudian mempertimbangkan kembali strategi mereka. Dampaknya terasa pada pergerakan emas.
"Jika perang berlanjut dan harga energi terus naik, itu bukan kabar baik bagi emas," ujar Bart Melek, kepala strategi komoditas global di TD Securities, kepada Reuters.
"Emas kemungkinan akan berada di bawah tekanan pada kuartal kedua, tetapi saya pikir menjelang akhir tahun prospek emas akan kembali menarik," imbuhnya.
Ia berharap bank sentral seperti The Federal Reserve memiliki lebih banyak ruang untuk melonggarkan kebijakan. Jika hal tersebut terjadi, dolar bisa melemah. Suku bunga juga berpotensi turun. Kondisi itu biasanya mendukung harga emas.
Emas batangan dikenal sebagai aset safe haven. Logam mulia ini juga digunakan sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Namun dalam lingkungan suku bunga tinggi, daya tariknya menurun. Investor cenderung memilih instrumen berbunga.
Perang Iran secara efektif telah menghentikan pengiriman sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG global melalui Selat Hormuz. Kondisi ini mendorong harga energi naik. Kekhawatiran inflasi pun meningkat. Dampaknya terasa pada kebijakan moneter.
Bank-bank sentral utama menegaskan kesiapan mereka untuk bertindak. Langkah tersebut diambil jika perang memicu lonjakan harga lebih luas. Kebijakan ini menjadi perhatian investor. Pasar bergerak mengikuti perkembangan.
"Penurunan harga terbaru kemungkinan sama berlebihannya dengan kenaikan besar di awal tahun. Dalam arti tertentu, bandul telah berayun dari satu ekstrem ke ekstrem lainnya untuk emas," pernyataan tersebut menggambarkan volatilitas pasar.
Perbaikan Harga Perak Mengikuti Tren Positif
Selain emas, harga perak juga menunjukkan penguatan. Logam mulia ini bahkan mencatat kenaikan lebih tinggi. Performa positif tersebut menarik perhatian pelaku pasar. Investor melihat peluang baru.
Merujuk Refinitiv, harga perak pada perdagangan Selasa 24 Maret 2026 ditutup di posisi US$ 71,23 per troy ons. Angka tersebut melesat sekitar 3%. Kenaikan ini memperpanjang tren positif. Sentimen pasar terhadap perak membaik.
Penguatan tersebut terjadi setelah dua hari kenaikan beruntun. Dalam periode tersebut, perak menguat sekitar 5%. Pergerakan ini menunjukkan momentum. Investor mulai meningkatkan eksposur.
Harga perak masih melesat pada perdagangan hari berikutnya. Pada Rabu 25 Maret 2026 pukul 06.36 WIB, harga perak melesat 1,32%. Nilainya berada di level US$ 4471,3 per troy ons. Tren positif masih berlanjut.
Prospek Logam Mulia Masih Dipenuhi Ketidakpastian
Meski harga emas kembali naik, risiko masih membayangi. Faktor geopolitik tetap menjadi perhatian utama. Perkembangan negosiasi internasional mempengaruhi pasar. Investor tidak bisa mengabaikan risiko.
Selain itu, kebijakan suku bunga juga berperan penting. Suku bunga tinggi menekan harga emas. Investor mencari instrumen yang memberikan imbal hasil. Hal ini mengurangi minat terhadap logam mulia.
Namun jika dolar melemah, emas bisa kembali menarik. Penurunan suku bunga biasanya mendukung harga. Pasar akan bergerak mengikuti kebijakan bank sentral. Semua faktor saling terkait.
Pergerakan harga emas saat ini mencerminkan keseimbangan rapuh. Kenaikan terjadi, tetapi tekanan masih ada. Investor harus mencermati dinamika global. Volatilitas kemungkinan masih berlanjut.
Mazroh Atul Jannah
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Jadwal KA Prameks Jogja Purworejo Hari Ini Lengkap Jam Berangkat Dan Rute
- Rabu, 25 Maret 2026
PLN Jaga Pasokan Listrik Nasional Stabil Saat Salat Idulfitri 1447 Hijriah
- Rabu, 25 Maret 2026
Berita Lainnya
AAJI Dukung Program Penjaminan Polis Asuransi Resmi Diluncurkan Tahun 2027
- Rabu, 25 Maret 2026












