Rabu, 11 Maret 2026

Rupiah Menguat Terhadap Dolar AS Dipicu Penurunan Harga Minyak

Rupiah Menguat Terhadap Dolar AS Dipicu Penurunan Harga Minyak
Rupiah Menguat Terhadap Dolar AS Dipicu Penurunan Harga Minyak

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi perhatian pelaku pasar keuangan. 

Dalam beberapa hari terakhir, mata uang Garuda menunjukkan kecenderungan menguat seiring perubahan sentimen global yang memengaruhi pergerakan pasar valuta asing.

Penguatan ini terjadi di tengah dinamika geopolitik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah. Meski ketegangan belum sepenuhnya mereda, sejumlah pernyataan dari pemimpin dunia memberikan harapan bahwa konflik tersebut tidak akan berlangsung terlalu lama.

Baca Juga

Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp40.000 Per Gram

Di sisi lain, fluktuasi harga komoditas global juga memberikan pengaruh terhadap nilai tukar berbagai mata uang, termasuk rupiah. Perubahan harga energi dunia, khususnya minyak mentah, menjadi salah satu faktor yang paling diperhatikan investor.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melesat pada pembukaan perdagangan Rabu.

Nilai tukar rupiah dibuka naik 12 poin atau 0,07% menjadi 16.851 per dolar AS dari penutupan sebelumya 16.863 per dolar AS.

Penguatan Rupiah Dipengaruhi Penurunan Harga Minyak

Pergerakan positif rupiah pada perdagangan hari ini tidak terlepas dari perubahan kondisi pasar energi global. Penurunan harga minyak mentah dinilai memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang untuk bergerak lebih stabil.

Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong menuturkan, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dipengaruhi harga minyak yang melemah.

“Rupiah diperkirakan akan berkonsolidasi dengan potensi menguat terbatas didukung oleh penurunan yang cukup besar pada harga minyak,” ujar dia dikutip dari Antara, Rabu pekan ini.

Mengutip Anadolu, patokan internasional minyak mentah Brent sempat diperdagangkan USD 87,6 per barel.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran USD 84,2 per barel.

Angka ini menurun setelah sempat melonjak di atas USD 119 per barel pada Senin, 9 Maret 2026 terkait kekhawatiran gangguan pasokan di Selat Hormuz yang terkait dengan perang Iran dengan AS-Israel.

Sentimen Geopolitik Turut Mempengaruhi Pergerakan Rupiah

Lukman menuturkan, penurunan tersebut disebabkan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengatakan perang dengan Iran diperkirakan akan "segera berakhir", tetapi membantah berakhir pada pekan ini.

“Ada harapan dari pernyataan Trump yang akan mengamankan Selat Hormuz, dan pernyataannya bahwa perang akan berakhir tidak lama lagi, walau belum tentu hal ini terjadi, namun memberikan sentimen yang positif,” ujar dia.

Di sisi lain, dia juga mengatakan, perang yang masih berlangsung akan terus membebani rupiah.

Berdasarkan faktor-faktor itu, rupiah akan bergerak di kisaran 16.800-16.950 per dolar AS.

Sentimen geopolitik memang sering menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pasar keuangan global.

Perkembangan konflik di kawasan strategis seperti Timur Tengah dapat berdampak langsung pada harga komoditas energi serta stabilitas ekonomi global.

Pergerakan Rupiah Pada Perdagangan Sebelumnya

Sebelumnya, nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa.

Rupiah melesat 86 poin atau 0,51% menjadi 16.863 per dolar AS dari penutupan sebelumnya 16.949 per dolar AS.

Sementara itu, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia menguat ke level 16.879 per dolar AS dari sebelumnya 16.974 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menuturkan, penguatan rupiah dipengaruhi pernyataan Presiden AS Donald Trump kalau konflik dengan Iran sudah mendekati penyelesaian.

"Pernyataan tersebut membantu meredakan sebagian kekhawatiran investor terhadap potensi konflik berkepanjangan yang sebelumnya dikhawatirkan dapat mengganggu pasokan energi global serta menekan prospek pertumbuhan ekonomi dunia,” ujar dia dikutip dari Antara.

Mengutip Kyodo, Trump menuturkan, perang dengan Iran yang hingga kini masih berlangsung diperkirakan akan "segera berakhir", tetapi membantah berakhir pada pekan ini.

Pernyataan Trump muncul setelah Iran memilih Ayatullah Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru mereka setelah sang ayah, Ayatullah Ali Khamenei, gugur dalam gelombang pertama serangan gabungan AS-Israel.

Faktor Global Masih Menjadi Perhatian Investor

Mojtaba Khamenei dikenal karena kedekatannya dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Naiknya Mojtaba ke tampuk kekuasaan menimbulkan kekhawatiran di sebagian besar negara bahwa perang, yang memasuki pekan kedua, dapat semakin menggoyahkan kawasan Timur Tengah dan langsung berdampak pada ekonomi global.

Kendati bersikeras AS telah mencapai keberhasilan militer yang "belum pernah terjadi sebelumnya", Trump mengaku "kecewa" dengan terpilihnya pemimpin tertinggi baru Iran.

"Kami pikir ini hanya akan menyebabkan masalah yang sama untuk negara ini," katanya.

“Koreksi pada indeks dolar AS memberikan ruang bagi sejumlah mata uang, termasuk rupiah, untuk bergerak lebih stabil dan cenderung menguat,” ujar Amru.

Pasar juga tengah mencermati arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Terutama setelah sejumlah data ekonomi AS menunjukkan kondisi yang masih relatif kuat.

Jika inflasi dan pasar tenaga kerja AS tetap solid, ia mengatakan, peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama akan meningkat dan berpotensi memperkuat dolar AS.

Saat ini, pasar turut menantikan rilis data inflasi AS yang dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter The Fed.

Melihat sentimen domestik, kenaikan harga minyak dunia akibat potensi gangguan pasokan energi juga menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Amru menambahkan, lonjakan harga energi menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan beban subsidi pemerintah dan memicu tekanan inflasi domestik.

“Apabila konflik geopolitik berlangsung dalam jangka panjang, volatilitas pasar keuangan global berpotensi meningkat dan dapat memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang, yang pada akhirnya memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah,” ujar dia.

Mazroh Atul Jannah

Mazroh Atul Jannah

teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Rekomendasi Saham Potensial Dan Pergerakan IHSG Hari Ini

Rekomendasi Saham Potensial Dan Pergerakan IHSG Hari Ini

Rekomendasi Saham Potensial Saat IHSG Menguat Pada Perdagangan Hari Ini

Rekomendasi Saham Potensial Saat IHSG Menguat Pada Perdagangan Hari Ini

Aksi Jual Asing Membesar Saat IHSG Tetap Menguat

Aksi Jual Asing Membesar Saat IHSG Tetap Menguat

IHSG Berpotensi Lanjut Melemah Di Tengah Sentimen Global

IHSG Berpotensi Lanjut Melemah Di Tengah Sentimen Global

Pasar Kripto Terkoreksi Analis Prediksi Konsolidasi Sebelum Reli Baru

Pasar Kripto Terkoreksi Analis Prediksi Konsolidasi Sebelum Reli Baru