Rupiah Dibuka Melemah Terhadap Dolar Sentimen Global Dan Domestik Masih Menekan
- Jumat, 30 Januari 2026
JAKARTA - Pembukaan perdagangan valuta asing hari ini kembali diwarnai tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Mata uang Garuda memulai sesi dengan kecenderungan melemah di hadapan dolar Amerika Serikat, mencerminkan kombinasi sentimen global dan domestik yang belum sepenuhnya kondusif. Kondisi ini menunjukkan kehati-hatian pelaku pasar dalam menyikapi arah kebijakan moneter global serta dinamika pasar keuangan dalam negeri.
Pelemahan rupiah pada awal perdagangan menjadi perhatian karena terjadi setelah pergerakan yang juga kurang menguntungkan pada sesi sebelumnya. Investor cenderung menahan posisi sambil menunggu kepastian arah pasar, baik dari faktor eksternal maupun perkembangan ekonomi nasional. Situasi tersebut membuat pergerakan rupiah masih berada dalam tekanan jangka pendek.
Baca JugaDukung Pembangunan Berkelanjutan, Perbankan Gencar Akselerasi Digitalisasi UMKM
Di tengah fluktuasi ini, pelaku pasar terus mencermati berbagai indikator yang berpotensi memengaruhi nilai tukar. Mulai dari kebijakan bank sentral Amerika Serikat, pergerakan indeks saham, hingga arus modal asing yang keluar masuk pasar domestik, semuanya menjadi faktor penting dalam menentukan arah rupiah.
Pergerakan Awal Rupiah Di Pasar Valuta Asing
Mengacu pada data yang dirilis Antara, kurs rupiah pada pembukaan perdagangan tercatat melemah 52 poin atau sekitar 0,31 persen. Rupiah bergerak ke level Rp16.807 per dolar AS dari posisi sebelumnya di kisaran Rp16.755 per dolar AS. Angka ini menunjukkan tekanan lanjutan yang masih membayangi pasar valuta asing domestik.
Pelemahan tersebut terjadi seiring meningkatnya permintaan terhadap dolar AS di pasar global. Dolar cenderung menguat ketika investor mencari aset yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian ekonomi dan keuangan dunia. Kondisi ini memberikan dampak langsung pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Meski demikian, pergerakan rupiah masih berada dalam rentang yang diperkirakan pelaku pasar. Fluktuasi harian dinilai sebagai respons wajar terhadap sentimen jangka pendek yang berkembang di pasar global dan regional.
Kinerja Rupiah Pada Perdagangan Sebelumnya
Pada sesi perdagangan sebelumnya, nilai tukar rupiah juga terpantau melemah di kisaran Rp16.752 per dolar AS. Tekanan tersebut muncul seiring sentimen negatif yang datang dari pasar saham, di mana Indeks Harga Saham Gabungan mengalami penurunan cukup dalam.
Analis menilai pelemahan rupiah tidak terlepas dari kombinasi faktor eksternal dan internal. Penetapan kebijakan suku bunga oleh Federal Reserve serta pergerakan pasar modal domestik menjadi pemicu utama yang memengaruhi persepsi investor terhadap aset berdenominasi rupiah.
Situasi ini membuat rupiah belum mampu mencatatkan penguatan berarti, meskipun terdapat harapan akan perbaikan sentimen jika kondisi global mulai lebih stabil.
Pengaruh Kebijakan The Fed Terhadap Rupiah
Presiden Direktur PT Doo Financial Futures Ariston Tjendra menjelaskan bahwa pelemahan rupiah didorong oleh sikap pimpinan Federal Reserve yang cenderung berhati-hati. Jerome Powell dinilai memberikan pernyataan yang relatif hawkish dalam pertemuan FOMC, sehingga pasar menilai suku bunga AS masih akan bertahan di level tinggi.
“Pelemahan ini karena dalam rapat FOMC, Gubernur Bank Sentral Jerome Powell memberikan pernyataan yang lebih hawkish dari harapan. Penurunan IHSG yang dalam juga memberikan sentimen negatif ke rupiah,” ungkap Ariston saat dikonfirmasi.
Menurutnya, sikap The Fed yang belum terburu-buru memangkas suku bunga membuat dolar tetap kuat. Hal ini menekan mata uang negara berkembang karena selisih imbal hasil yang masih menguntungkan aset berdenominasi dolar AS.
Stimulus Domestik Dan Likuiditas Rupiah
Selain faktor eksternal, Ariston menilai pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh kebijakan stimulus fiskal dan moneter di dalam negeri. Upaya pemerintah dan Bank Indonesia untuk memperbesar likuiditas rupiah dinilai memberikan sentimen pelemahan dalam jangka pendek.
“Overall, kebijakan stimulus fiskal dan moneter dari pemerintah dan BI yang ingin memperbesar likuiditas rupiah memang memberikan sentimen pelemahan ke rupiah,” katanya.
Meski demikian, kebijakan tersebut diharapkan dapat menopang pertumbuhan ekonomi dalam jangka menengah hingga panjang. Dengan dukungan fundamental yang membaik, rupiah berpeluang kembali stabil ketika tekanan eksternal mulai mereda.
Ariston juga menyampaikan harapannya agar suku bunga AS dapat turun lebih besar ke depan. Jika The Fed memberikan sinyal pemangkasan suku bunga yang signifikan, rupiah berpotensi menguat secara bertahap.
Peluang Penguatan Dan Tantangan Ke Depan
Menurut Ariston, rupiah berpeluang menguat hingga ke level Rp16.000 per dolar AS dalam tahun ini. Skenario tersebut sangat bergantung pada kebijakan pemangkasan suku bunga acuan oleh bank sentral AS. Jika pemangkasan mencapai 75 basis poin, sentimen positif diperkirakan akan mengalir ke pasar negara berkembang.
Di sisi lain, penguatan rupiah diperkirakan masih akan terbatas dalam jangka pendek. Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menilai arus dana keluar di pasar modal domestik menjadi salah satu penghambat penguatan rupiah.
Rully menyebut perhatian pasar global terhadap isu independensi Federal Reserve turut memengaruhi pergerakan nilai tukar. Ketidakpastian terkait kebijakan moneter dan tekanan politik di Amerika Serikat membuat pasar cenderung berhati-hati.
Dari dalam negeri, tekanan juga datang dari arus keluar dana asing akibat penurunan peringkat investasi Indonesia oleh MSCI. Faktor ini membuat penguatan rupiah terhadap dolar AS masih menghadapi tantangan, meskipun terdapat peluang perbaikan jika sentimen global berubah lebih positif.
Mazroh Atul Jannah
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gen Z Jangan FOMO! Ini Risiko Ambil KPR Tanpa Hitung Daya Beli di Tahun 2026
- Jumat, 06 Februari 2026
Bank Jateng Perluas KPR Subsidi di Batang: Gandeng 40 Pengembang untuk Hunian MBR
- Jumat, 06 Februari 2026
Analisis Saham Sektor Konsumsi: Strategi Investasi ICBP, SIDO, dan CMRY di Tahun 2026
- Jumat, 06 Februari 2026
Berita Lainnya
Bank Jateng Perluas KPR Subsidi di Batang: Gandeng 40 Pengembang untuk Hunian MBR
- Jumat, 06 Februari 2026
Analisis Saham Sektor Konsumsi: Strategi Investasi ICBP, SIDO, dan CMRY di Tahun 2026
- Jumat, 06 Februari 2026
Jasindo Syariah Tetap Optimistis Kelola SBSN Seiring Arah Suku Bunga BI
- Jumat, 06 Februari 2026










