Prediksi Kurs Rupiah 13 Mei 2026 Tertekan di Level 17.500 Per Dolar

Rabu, 13 Mei 2026 | 14:22:42 WIB
Ilustrasi Proses Penukaran Dolar AS ke Rupiah (Foto: voi.id)

JAKARTA — Kurs rupiah diproyeksikan akan terus berada di bawah tekanan pada sesi perdagangan Rabu (13/5/2026), mengikuti penutupan hari sebelumnya yang anjlok hingga melampaui level psikologis Rp17.500 per dolar AS dipicu penguatan greenback serta gejolak global yang kian tajam.

Merujuk pada data RTI Infokom, mata uang garuda ditutup melemah 0,66% atau berkurang 115 poin ke posisi Rp17.529 per dolar AS pada Selasa (12/5/2026). Di saat yang bersamaan, indeks dolar AS dilaporkan menguat 0,31% menuju level 98,25.

Research and Development ICDX, Tiffani Safinia memaparkan bahwa penyusutan nilai rupiah hingga di atas Rp17.500 per dolar AS merupakan akibat dari kombinasi faktor internal dan eksternal. Secara global, dolar AS terus menunjukkan keperkasaannya karena didorong oleh ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi The Fed yang akan bertahan lebih lama.

"Selain itu, ada peningkatan permintaan aset safe haven di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah, serta kenaikan harga minyak dunia yang meningkatkan tekanan terhadap rupiah. Pasar juga masih menunggu arah inflasi AS yang akan menentukan ekspektasi kebijakan moneter The Fed ke depan," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dari sisi domestik, pelemahan nilai tukar juga terimbas oleh sentimen aliran modal asing serta persepsi investor atas stabilitas pasar keuangan nasional. Tiffani menilai, isu MSCI yang berkaitan dengan aspek transparansi dan struktur pasar modal dalam negeri turut memicu kewaspadaan bagi investor global.

Selain itu, para pelaku pasar mengkhawatirkan kapasitas fiskal, beban subsidi yang semakin besar saat rupiah terdepresiasi, hingga tingginya kebutuhan dolar AS guna melunasi utang luar negeri korporasi pada periode April–Mei. Serangkaian faktor tersebut menjadikan beban rupiah terasa lebih berat jika dibandingkan dengan mata uang lain di wilayah regional.

Tiffani menjelaskan lebih jauh bahwa dampak pelemahan rupiah terhadap perekonomian Indonesia perlu diwaspadai, terutama pada imported inflation. Penurunan kurs berisiko menaikkan biaya impor bahan baku, barang konsumsi, dan energi, yang secara perlahan dapat mengerek harga-harga di pasar domestik.

Tekanan ini juga mengancam kondisi APBN karena meningkatnya beban subsidi energi serta cicilan utang valas. Bagi sektor usaha, khususnya korporasi yang memiliki kewajiban dolar AS namun berpendapatan rupiah, situasi ini berpotensi mengguncang biaya operasional serta arus kas.

"Namun demikian, pelemahan rupiah juga memberikan sisi positif terbatas bagi sektor berorientasi ekspor karena meningkatkan daya saing harga produk ekspor Indonesia. Selain itu, Bank Indonesia masih memiliki ruang stabilisasi melalui intervensi pasar valas, optimalisasi instrumen moneter, serta penguatan kebijakan pengendalian permintaan dolar AS domestik," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Tiffani memberikan penekanan bahwa pergerakan rupiah saat ini sangat dipengaruhi oleh arus modal jangka pendek dan sentimen global. Selama ketegangan geopolitik masih panas dan kebijakan suku bunga AS belum mengalami pergeseran berarti, fluktuasi rupiah diperkirakan akan tetap tinggi dalam waktu dekat.

Sementara itu, Trading Economics memprediksi rupiah akan berada di angka Rp17.388 per dolar AS pada pengujung kuartal kedua 2026, dengan risiko koreksi yang lebih dalam pada akhir tahun.

"Rupiah Indonesia diperkirakan akan melemah hingga pertengahan 2026, dengan perkiraan menunjukkan di kisaran Rp17.300 sampai lebih dari Rp17.500 per dolar AS pada akhir 2026," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Terkini