NEW YORK – Pasar saham Wall Street menutup sesi perdagangan dengan hasil yang bervariasi, di mana dua dari tiga indeks utamanya mengalami pelemahan.
Indeks S&P 500 dan Nasdaq mencatatkan penurunan dari posisi rekor tertingginya menyusul perilisan data inflasi yang melebihi perkiraan serta kondisi gencatan senjata antara AS dan Iran yang semakin tidak stabil.
Situasi ini mendorong para pemodal untuk memindahkan fokus dari potensi reli pasar ke arah laporan laba rugi kuartal pertama.
Pada Selasa (12/5/2026), Dow Jones Industrial Average berakhir menguat 56,09 poin atau 0,11% ke posisi 49.760,56. Sebaliknya, S&P 500 menyusut 11,88 poin atau 0,16% ke level 7.400,96, sementara Nasdaq Composite melemah 185,92 poin atau 0,71% menuju 26.088,20.
Dari 11 sektor utama di S&P 500, sektor teknologi serta barang konsumsi non-esensial menjadi kelompok yang paling tertekan. Di lain pihak, sektor barang konsumsi esensial dan kesehatan justru memimpin kenaikan.
Penurunan pada saham-saham teknologi menjadi beban utama bagi Nasdaq, sedangkan sektor kesehatan yang disokong oleh kenaikan saham Humana berhasil menjaga Dow Jones tetap berada di area positif.
Meskipun diterpa aksi jual, posisi S&P 500 dan Nasdaq dilaporkan masih bertengger di dekat level tertinggi sepanjang masa.
Sejalan dengan berakhirnya musim laporan keuangan, para pelaku pasar kini lebih memperhatikan dinamika makroekonomi, situasi geopolitik, serta nilai wajar saham.
Walaupun indeks PHLX Semiconductor merosot 3%, secara tahun berjalan indeks ini telah menguat 65,4% dipicu oleh antusiasme terhadap teknologi kecerdasan buatan.
"Prediksi kami adalah agar pasar stabil karena keserakahan terjadi selama musim laporan keuangan dan ketakutan setelahnya," kata Jay Hatfield, CEO dan manajer portofolio di InfraCap di New York.
Data ekonomi terbaru menunjukkan harga konsumen tumbuh lebih pesat pada bulan lalu dibanding prakiraan para analis. Hal ini diakibatkan oleh terhambatnya suplai minyak mentah menyusul penutupan Selat Hormuz di tengah konflik dengan Iran.
"Inflasi tidak akan membaik kecuali harga minyak turun," tambah Hatfield. "Itulah sejarah yang bisa Anda jadikan patokan."
Ketegangan dengan Iran yang telah berjalan selama 11 minggu tampak belum akan memberikan titik terang dalam waktu dekat.
Presiden AS Donald Trump menyatakan situasi gencatan senjata saat ini "dalam kondisi kritis" usai pihak Teheran menolak usul AS untuk mengakhiri perselisihan dan tetap pada tuntutan yang dinilai Trump sebagai "sampah."
Kemungkinan konflik yang berkepanjangan ini memperlebar peluang kenaikan harga energi yang dapat memacu inflasi secara lebih luas.
Keadaan tersebut menghapus ekspektasi akan penurunan suku bunga The Fed tahun ini di bawah kepemimpinan Kevin Warsh, yang baru saja disahkan Senat AS sebagai anggota dewan The Fed pada Selasa.
"Warsh tidak akan mampu menurunkan suku bunga bahkan jika dia mau, dan saya rasa dia tidak akan mau," tutur Hatfield, yang juga memberikan nada optimis terhadap rencana reformasi The Fed oleh Warsh.
Peluang kenaikan suku bunga pun semakin menguat. Merujuk pada alat FedWatch CME, pasar uang memprediksi peluang sebesar 30,5% bagi bank sentral untuk menaikkan suku bunga 25 basis poin pada Desember mendatang, meningkat dari posisi 21,5% pada Senin (11/5/2026).
Pada pekan ini, Trump dijadwalkan bertolak ke Beijing untuk bertemu Presiden China Xi Jinping. Pertemuan itu akan mendiskusikan persoalan tarif, sokongan militer ke Taiwan, peran China dalam mediasi perdamaian dengan Iran, hingga perpanjangan kesepakatan perdagangan logam tanah jarang.
Dalam perdagangan kali ini, beberapa pergerakan saham yang menonjol meliputi:
1. Humana: Naik 7,7% setelah kenaikan target harga oleh Bernstein.
2. Zebra Technologies: Melonjak 11,4% berkat kenaikan perkiraan pertumbuhan penjualan tahunan.
3. Venture Global: Melesat 14,2% setelah menaikkan proyeksi laba inti tahunan.
4. GameStop: Turun 3,5% menyusul penolakan tawaran pengambilalihan oleh eBay.
5. Hims & Hers Health: Anjlok 14,1% karena pendapatan kuartal pertama dan kerugian yang tidak sesuai ekspektasi pasar.