IHSG Menguat Usai Libur Panjang Nyepi Dan Idulfitri Dibuka Positif Pagi Ini

Rabu, 25 Maret 2026 | 12:04:47 WIB
IHSG Menguat Usai Libur Panjang Nyepi Dan Idulfitri Dibuka Positif Pagi Ini

JAKARTA - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG pada awal perdagangan hari ini menunjukkan sentimen yang cukup positif setelah jeda panjang libur bursa. 

Momentum ini menjadi perhatian pelaku pasar karena terjadi tepat setelah rangkaian libur Nyepi dan Idulfitri. Pada pembukaan perdagangan Rabu, 25 Maret 2026, IHSG tercatat berada di level 7.084,622.

Data perdagangan yang dihimpun hingga pukul 09.38 WIB memperlihatkan lonjakan yang cukup signifikan. IHSG naik sebesar 75,474 poin atau setara 1,06 persen sehingga mencapai posisi 7.182,313. Kenaikan ini mencerminkan optimisme pelaku pasar yang kembali aktif setelah libur panjang.

Aktivitas transaksi juga menunjukkan dinamika yang cukup ramai di awal perdagangan. Tercatat sebanyak 442 saham mengalami penguatan, sementara 181 saham lainnya melemah dan 116 saham berada dalam kondisi stagnan. Hal ini menggambarkan dominasi sentimen positif meskipun masih ada tekanan pada sejumlah saham.

Nilai transaksi yang terjadi hingga waktu tersebut mencapai Rp6,893 triliun dengan total volume perdagangan sebesar 12,489 miliar saham. Angka ini menunjukkan tingginya partisipasi investor dalam merespons pembukaan pasar setelah periode libur yang cukup panjang.

Pergerakan IHSG Berpotensi Berlanjut Menguat

Optimisme terhadap pergerakan IHSG tidak hanya terlihat dari data pembukaan perdagangan, tetapi juga dari pandangan analis pasar. Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menyampaikan bahwa IHSG masih memiliki peluang untuk melanjutkan tren kenaikan pada hari ini.

"Support IHSG 6.950-7.000 dan resist IHSG 7.170-7.300," ungkap Fanny dalam analisis hariannya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa terdapat ruang pergerakan yang masih bisa dimanfaatkan oleh pelaku pasar dalam jangka pendek.

Sebelum memasuki masa libur panjang, IHSG juga telah menunjukkan performa yang cukup solid. Pada perdagangan terakhir tanggal 17 Maret, indeks ditutup menguat sebesar 1,2 persen. Kenaikan tersebut turut didukung oleh aksi beli bersih atau net buy investor asing sebesar Rp155 miliar.

Saham-saham yang menjadi incaran investor asing saat itu meliputi EMAS, AADI, TLKM, ITMG, dan ARCI. Ketertarikan terhadap saham-saham tersebut memberikan sinyal adanya kepercayaan terhadap prospek pasar domestik dalam jangka pendek maupun menengah.

Tekanan Dari Wall Street Masih Membayangi

Di tengah penguatan IHSG, kondisi pasar global justru menunjukkan arah yang berbeda, khususnya di Amerika Serikat. Indeks-indeks utama di Wall Street mengalami pelemahan pada perdagangan Selasa, 24 Maret 2026.

Indeks Dow Jones tercatat turun sebesar 0,18 persen, sementara S&P 500 melemah 0,37 persen. Adapun indeks Nasdaq mengalami koreksi yang lebih dalam, yaitu sebesar 0,84 persen. Pelemahan ini mencerminkan adanya tekanan eksternal yang masih memengaruhi sentimen global.

Pergerakan negatif di Wall Street biasanya memberikan dampak terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Namun, pada pembukaan perdagangan kali ini, IHSG justru mampu bergerak berlawanan arah, menunjukkan adanya faktor domestik yang cukup kuat.

Hal ini mengindikasikan bahwa pelaku pasar di dalam negeri lebih fokus pada sentimen lokal serta momentum pasca-libur panjang. Meskipun demikian, perkembangan pasar global tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan ke depannya.

Bursa Asia Pasifik Tunjukkan Tren Positif

Berbeda dengan Wall Street, mayoritas bursa saham di kawasan Asia Pasifik justru mencatatkan penguatan. Pada perdagangan Selasa, 24 Maret 2026, sejumlah indeks utama mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

Kenaikan ini dipicu oleh tanda-tanda de-eskalasi konflik di Timur Tengah yang berdampak pada penurunan harga minyak dunia. Kondisi tersebut memberikan sentimen positif bagi pasar karena mengurangi tekanan inflasi global.

Indeks Kospi di Korea Selatan melonjak sebesar 2,7 persen, sementara Kosdaq naik 2,2 persen. Di Jepang, indeks Nikkei 225 menguat 1,4 persen dan Topix naik 2,1 persen, didorong oleh penurunan tingkat inflasi utama selama empat bulan berturut-turut.

Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 Australia naik 0,2 persen dan Hang Seng Hong Kong mencatat kenaikan sebesar 2,8 persen. Indeks CSI 300 juga mengalami penguatan sebesar 1,3 persen, menunjukkan tren positif yang cukup merata di kawasan.

Pergerakan Beragam Di Kawasan Asia Lainnya

Meski mayoritas bursa Asia menguat, tidak semua indeks bergerak dalam zona hijau. Beberapa pasar justru mencatatkan pelemahan, mencerminkan adanya variasi sentimen di masing-masing negara.

Indeks Taiex Taiwan tercatat melemah sebesar 0,3 persen. Sementara itu, indeks FTSE Malay KLCI di Malaysia juga mengalami penurunan sebesar 0,7 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa faktor domestik masing-masing negara turut memengaruhi arah pergerakan pasar.

Perbedaan kinerja antar indeks ini menjadi gambaran bahwa pasar regional masih berada dalam kondisi yang dinamis. Investor cenderung selektif dalam mengambil keputusan berdasarkan perkembangan ekonomi dan geopolitik terbaru.

Bagi pelaku pasar di Indonesia, kondisi ini dapat menjadi referensi dalam melihat potensi pergerakan IHSG ke depan. Kombinasi antara sentimen global dan domestik akan terus menjadi penentu arah pasar.

Optimisme Pasar Domestik Tetap Terjaga

Secara keseluruhan, pembukaan perdagangan IHSG setelah libur panjang menunjukkan sinyal positif yang cukup kuat. Kenaikan indeks, tingginya volume transaksi, serta dominasi saham yang menguat menjadi indikator utama optimisme pasar.

Meskipun terdapat tekanan dari pasar global seperti Wall Street, IHSG mampu menunjukkan ketahanan yang cukup baik. Hal ini didukung oleh sentimen domestik serta aktivitas investor yang kembali meningkat setelah libur.

Dengan adanya proyeksi teknikal yang masih membuka peluang kenaikan, pelaku pasar diharapkan tetap mencermati level support dan resistance yang telah disebutkan. Pergerakan IHSG dalam beberapa waktu ke depan akan sangat dipengaruhi oleh kombinasi faktor internal dan eksternal.

Situasi ini menjadikan pasar saham Indonesia tetap menarik untuk dicermati, terutama dalam momentum pasca-libur panjang yang sering kali menghadirkan peluang baru bagi investor.

Terkini