Klaim Asuransi Jiwa Turun Pada 2025 Namun Klaim Kesehatan Justru Meningkat

Rabu, 25 Maret 2026 | 12:04:38 WIB
Klaim Asuransi Jiwa Turun Pada 2025 Namun Klaim Kesehatan Justru Meningkat

JAKARTA - Perkembangan industri asuransi jiwa sepanjang tahun 2025 menunjukkan dinamika yang cukup kontras antara berbagai jenis klaim. 

Di satu sisi, total klaim mengalami penurunan, namun di sisi lain klaim kesehatan justru mencatatkan peningkatan. Kondisi ini mencerminkan perubahan kebutuhan dan perilaku nasabah dalam memanfaatkan produk asuransi.

Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat klaim asuransi jiwa menurun 7,8% (year on year/YoY) pada periode Januari—Desember 2025 menjadi Rp146,73 triliun.

Berdasarkan data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), pada periode yang sama tahun sebelumnya klaim yang dibayarkan industri asuransi jiwa mencapai Rp159,09 triliun.

Penurunan ini menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam struktur klaim yang dibayarkan oleh industri. Meskipun demikian, angka tersebut tetap mencerminkan besarnya peran industri dalam memberikan perlindungan finansial kepada masyarakat.

Penurunan Klaim Jiwa Dipengaruhi Nilai Tebus

“Klaim asuransi jiwa mengalami penurunan yakni 9,1% dengan total nilai sebesar Rp26,74 triliun,” kata Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan SDM (Center of Excellence) AAJI Handojo G . Kusuma dalam konferensi pers di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Handojo mengungkap hal tersebut berbanding terbalik dengan total klaim asuransi kesehatan yang dibayarkan industri asuransi jiwa yang meningkat. Kondisi ini menunjukkan adanya pergeseran kebutuhan proteksi di masyarakat.

Secara total, pada periode Januari—Desember 2025, industri asuransi jiwa telah membayarkan klaim kesehatan Rp26,74 triliun. Nilai ini naik 9,1% (YoY) dari sebelumnya Rp24,18 triliun.

Kenaikan ini menandakan bahwa kebutuhan layanan kesehatan melalui asuransi semakin meningkat. Hal ini juga menjadi indikasi meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan kesehatan.

Penurunan Klaim Surrender Jadi Faktor Utama

Handojo menyebut penurunan total klaim ini disebabkan oleh menurunnya pembayaran untuk nilai tebus atau surrender. Faktor ini menjadi penyumbang utama turunnya total klaim industri.

Kemudian, klaim surrender atau nilai tebus, lanjut Handojo, turun 19,0% secara tahunan menjadi Rp62,72 triliun. Angka ini menurun dibandingkan periode sebelumnya yang tercatat sebesar Rp77,43 triliun pada 2024.

Penurunan signifikan ini menunjukkan bahwa lebih sedikit nasabah yang melakukan pencairan nilai polis sebelum jatuh tempo. Kondisi ini dapat diartikan sebagai meningkatnya kepercayaan terhadap produk asuransi.

Selain itu, berkurangnya klaim surrender juga berdampak langsung pada total klaim industri. Hal ini menjadi faktor utama yang menjelaskan penurunan secara keseluruhan.

Klaim Akhir Kontrak Dan Meninggal Dunia Meningkat

Sementara itu, total klaim akhir kontrak tercatat mengalami kenaikan 11,1% dari sebelumnya Rp18,30 triliun, menjadi Rp18,53 sepanjang 2025.

Adapun total klaim meninggal dunia meningkat sebesar 3,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menjadi Rp11,76. Kenaikan ini mencerminkan fungsi dasar asuransi jiwa yang tetap berjalan.

Selain itu, total klaim partial withdrawal juga meningkat 11,1% menjadi Rp20,24 dari periode sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa nasabah masih memanfaatkan fleksibilitas produk asuransi.

Kenaikan pada beberapa jenis klaim ini memperlihatkan bahwa meskipun total klaim menurun, aktivitas klaim tetap berlangsung secara aktif di berbagai segmen.

Klaim Kesehatan Didominasi Produk Individu

Secara rinci, porsi terbesar dari klaim asuransi kesehatan ada pada produk individu. Total klaimnya mencapai Rp16,59 triliun, meningkat 6,7% (YoY) dibandingkan Rp15,29 triliun pada periode 2024.

Adapun untuk klaim asuransi kesehatan kumpulan tercatat sebesar Rp10,16 triliun dari sebelumnya Rp8,89 triliun sepanjang 2024. Kedua segmen ini sama-sama menunjukkan tren peningkatan.

Peningkatan klaim kesehatan ini menegaskan bahwa kebutuhan perlindungan kesehatan terus meningkat di masyarakat. Hal ini juga menjadi peluang bagi industri untuk mengembangkan produk yang lebih relevan.

Dominasi produk individu menunjukkan bahwa kesadaran personal terhadap proteksi kesehatan semakin tinggi. Masyarakat mulai melihat asuransi sebagai kebutuhan penting.

Kolaborasi Jadi Kunci Keberlanjutan Industri

Untuk mendorong peningkatan industri, Handojo mengungkap perlu adanya kolaborasi dengan berbagai pihak. Sinergi ini dinilai penting untuk menciptakan ekosistem yang sehat.

“Kolaborasi dengan berbagai masyarakat termasuk OJK, Kamendes, BPJS Kesehatan, dan mengoptimalkan penerapan dari OJK Guna-guna menciptakan lingkungan asuransi kesehatan yang berkelanjutan dan bermakna bagi masyarakat kita,” tutupnya.

Kolaborasi lintas sektor diharapkan mampu memperkuat fondasi industri asuransi di Indonesia. Dengan dukungan berbagai pihak, pertumbuhan industri dapat lebih terarah.

Langkah ini juga menjadi strategi untuk menjawab tantangan ke depan. Dengan pendekatan kolaboratif, industri diharapkan mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Terkini