Tradisi Lebaran Ketupat di Jawa Sarat Makna Syukur dan Silaturahmi Mendalam

Rabu, 25 Maret 2026 | 10:10:25 WIB
Tradisi Lebaran Ketupat di Jawa Sarat Makna Syukur dan Silaturahmi Mendalam

JAKARTA - Perayaan Idulfitri tidak selalu berhenti pada 1 Syawal. 

Di sejumlah daerah di Indonesia, khususnya Pulau Jawa, terdapat tradisi lanjutan yang tak kalah penting, yakni Lebaran Ketupat. Tradisi ini menjadi bagian dari kekayaan budaya yang masih terus dijaga hingga kini.

Lebaran Ketupat dirayakan tepat sepekan setelah Hari Raya Idulfitri. Jika mengacu pada penetapan 1 Syawal 1447 H yang jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026, maka Lebaran Ketupat 2026 diperingati pada Sabtu, 28 Maret 2026. 

Penentuan waktu ini bukan tanpa alasan, karena bertepatan dengan berakhirnya puasa sunah enam hari di bulan Syawal yang dianjurkan dalam ajaran Islam.

Masyarakat Jawa memaknai momen ini sebagai bentuk penyempurnaan perayaan Idulfitri. Tidak hanya sebagai tradisi kuliner atau perayaan biasa, Lebaran Ketupat mengandung nilai kebersamaan, rasa syukur, dan penguatan hubungan sosial antarwarga.

Apa Itu Lebaran Ketupat atau Kupatan

Lebaran Ketupat, yang juga dikenal dengan istilah “Kupatan”, merupakan tradisi masyarakat Muslim di Indonesia, khususnya di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tradisi ini identik dengan kegiatan sederhana namun penuh makna.

Pada hari tersebut, masyarakat biasanya melakukan beberapa kegiatan khas, seperti membuat ketupat dari anyaman daun kelapa, menyajikan makanan khas seperti opor ayam dan sambal goreng, serta berbagi makanan dengan tetangga dan kerabat.

Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan simbol dari kebersamaan dan rasa syukur setelah menjalani bulan Ramadan. Ketupat menjadi pusat dari seluruh rangkaian tradisi ini, baik sebagai hidangan maupun simbol nilai kehidupan.

Melalui kebiasaan berbagi makanan, masyarakat mempererat hubungan sosial yang mungkin sempat renggang. Tradisi ini juga menjadi sarana untuk memperkuat nilai gotong royong dan solidaritas antarwarga.

Asal-Usul Lebaran Ketupat dalam Sejarah Jawa

Mengutip dari NU Online, masyarakat Jawa meyakini bahwa Sunan Kalijaga merupakan tokoh yang pertama kali mengenalkan ketupat sebagai bagian dari tradisi Islam di tanah Jawa.

Budayawan Zastrouw Al-Ngatawi menjelaskan bahwa Sunan Kalijaga memanfaatkan budaya slametan yang sudah berkembang di Nusantara sebagai sarana untuk menyampaikan nilai-nilai Islam, seperti rasa syukur, sedekah, dan pentingnya menjaga silaturahmi di momen hari raya.

Lebaran Ketupat juga dikenal dengan istilah “bakda kupat”, yang berasal dari ungkapan Jawa “ngaku lepat” atau mengakui kesalahan. Dalam praktiknya, ketupat dijadikan simbol untuk saling memaafkan dan melupakan kesalahan dengan penuh keikhlasan.

Sementara itu, sejarawan Agus Sunyoto menyebut bahwa Lebaran Ketupat merupakan tradisi khas Indonesia yang kemudian diperkuat dengan hadits Rasulullah SAW mengenai anjuran puasa enam hari di bulan Syawal. 

Hadis tersebut menyatakan bahwa siapa yang berpuasa Ramadan lalu melanjutkannya dengan enam hari di bulan Syawal, maka pahalanya seperti berpuasa selama satu tahun.

Dengan demikian, Lebaran Ketupat tidak hanya berakar dari budaya lokal, tetapi juga memiliki legitimasi dalam ajaran Islam, menjadikannya perpaduan harmonis antara tradisi dan religiusitas.

Filosofi Mendalam di Balik Ketupat

Ketupat bukan sekadar makanan khas Lebaran, melainkan simbol yang sarat makna filosofis. Kata “ketupat” sendiri dipercaya mengandung nilai-nilai kehidupan yang dalam.

Anyaman pembungkusnya yang terbuat dari janur kuning dipercaya sebagai simbol penolak bala. Bentuknya yang menyerupai segi empat mencerminkan konsep Jawa “kiblat papat lima pancer”, yaitu keyakinan bahwa ke mana pun manusia melangkah, pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta.

Kerumitan anyaman janur melambangkan berbagai kesalahan manusia, sementara warna putih nasi di dalamnya menggambarkan kesucian setelah saling memaafkan. Selain itu, isi ketupat berupa beras juga menjadi simbol harapan akan kesejahteraan setelah Hari Raya Idulfitri.

Ketupat biasanya disajikan bersama opor ayam dan sambal goreng. Dalam bahasa Jawa, santan pada opor disebut “santen” yang dimaknai sebagai “pangapunten” atau permohonan maaf.

Makna tersebut semakin diperkuat melalui pantun khas Lebaran berikut:

Mangan kupat nganggo santen,
Menawi lepat, nyuwun pangapunten.

Yang berarti:
Makan ketupat dengan santan,
Jika ada kesalahan, mohon dimaafkan.

Pantun ini mencerminkan inti dari Lebaran Ketupat, yakni saling memaafkan dengan tulus dan menjaga keharmonisan hubungan antar sesama.

Tradisi yang Tetap Relevan Hingga Kini

Di tengah modernisasi, Lebaran Ketupat tetap bertahan sebagai tradisi yang relevan. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya seperti kebersamaan, keikhlasan, dan saling memaafkan masih sangat dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat saat ini.

Tradisi ini juga menjadi pengingat bahwa perayaan Idulfitri bukan hanya tentang kemeriahan, tetapi juga tentang refleksi diri dan memperbaiki hubungan dengan sesama. Ketupat, dengan segala simbolismenya, menjadi medium sederhana untuk menyampaikan pesan-pesan besar dalam kehidupan.

Lebaran Ketupat pada akhirnya bukan sekadar tradisi turun-temurun, melainkan warisan budaya yang terus hidup dan berkembang, sekaligus menjadi jembatan antara nilai-nilai lokal dan ajaran agama yang universal.

Terkini