Kinerja AirAsia Indonesia Membaik, Pendapatan 2025 Capai Rp7,87 Triliun

Senin, 16 Maret 2026 | 05:04:32 WIB
Kinerja AirAsia Indonesia Membaik, Pendapatan 2025 Capai Rp7,87 Triliun

JAKARTA - Industri penerbangan masih menghadapi berbagai tekanan sepanjang 2025, mulai dari biaya operasional yang tinggi hingga fluktuasi nilai tukar. Namun di tengah kondisi tersebut, PT AirAsia Indonesia Tbk (AAID/CMPP) berhasil mencatatkan kinerja yang menunjukkan perbaikan.

Maskapai berbiaya hemat ini melaporkan pendapatan sebesar Rp7,87 triliun sepanjang 2025. Selain itu, perusahaan juga mampu menekan kerugian hingga sekitar 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya, yang mencerminkan upaya penguatan operasional serta efisiensi yang terus dilakukan.

“Perbaikan kinerja ini mencerminkan penguatan operasional maskapai di tengah dinamika industri penerbangan yang masih menghadapi tantangan biaya operasional dan fluktuasi nilai tukar,” ujar Direktur Utama AirAsia Indonesia Achmad Sadikin Abdurachman dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.

Kinerja Operasional dan Jumlah Penumpang

Sepanjang 2025, melalui anak usahanya Indonesia AirAsia, perseroan mencatat jumlah penumpang yang diangkut mencapai 5,91 juta orang. Tingkat keterisian kursi atau load factor juga mencapai 83 persen di seluruh jaringan penerbangan yang dilayani maskapai tersebut.

Pendapatan terbesar berasal dari penjualan kursi penerbangan yang mencapai Rp6,62 triliun. Sementara itu, sumber pendapatan tambahan atau ancillary revenue turut memberikan kontribusi signifikan.

Pendapatan tambahan tersebut berasal dari berbagai layanan seperti bagasi, layanan dalam penerbangan, kargo, charter, hingga layanan lainnya. Nilainya tercatat mencapai Rp1,25 triliun atau meningkat sekitar 3 persen dibandingkan tahun 2024.

Capaian ini menunjukkan bahwa selain mengandalkan penjualan tiket, perusahaan juga terus memaksimalkan potensi dari layanan tambahan yang menjadi bagian penting dalam strategi bisnis maskapai berbiaya rendah.

Pengaruh Perawatan Pesawat dan Nilai Tukar

Kinerja operasional sepanjang 2025 juga dipengaruhi oleh penurunan kapasitas penerbangan yang bersifat sementara. Kondisi ini terjadi karena adanya jadwal perawatan pesawat yang merupakan bagian dari standar keselamatan dan keandalan operasional maskapai.

Program perawatan tersebut menyebabkan berkurangnya kapasitas kursi yang tersedia pada beberapa periode sepanjang tahun. Meski demikian, langkah tersebut tetap dilakukan untuk memastikan kualitas layanan dan keamanan penerbangan tetap terjaga.

Selain faktor operasional, depresiasi dolar Amerika Serikat sekitar 3,8 persen turut memberikan tekanan terhadap biaya operasional. Hal ini disebabkan sebagian besar komponen biaya industri penerbangan menggunakan mata uang asing.

Meski menghadapi tekanan tersebut, perseroan berhasil menurunkan cost per available seat kilometre (CASK) sebesar 1,4 persen dibandingkan 2024. Penurunan ini dicapai melalui berbagai langkah efisiensi yang diterapkan perusahaan.

“Sepanjang 2025 kami fokus memperkuat konektivitas penerbangan sekaligus menjaga efisiensi operasional. Upaya tersebut memungkinkan Indonesia AirAsia menurunkan kerugian di tengah tantangan industri penerbangan yang masih menghadapi tekanan biaya operasional,” kata Achmad.

Ekspansi Rute Penerbangan Baru

Di tengah upaya memperbaiki kinerja, Indonesia AirAsia juga terus memperluas jaringan penerbangan sepanjang 2025. Maskapai membuka sejumlah rute strategis baik untuk penerbangan internasional maupun domestik.

Untuk rute internasional, beberapa jalur baru yang dibuka antara lain Bali–Darwin, Bali–Adelaide, serta Surabaya–Don Mueang (Bangkok). Penambahan rute ini diharapkan dapat memperkuat konektivitas Indonesia dengan berbagai destinasi di kawasan Asia Pasifik.

Sementara di dalam negeri, maskapai membuka beberapa rute baru untuk meningkatkan konektivitas antardaerah. Rute tersebut antara lain Jakarta–Manado, Surabaya–Balikpapan, Balikpapan–Tarakan, serta Balikpapan–Berau.

Pembukaan rute-rute ini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam memperluas jaringan sekaligus mendukung mobilitas penumpang di berbagai wilayah Indonesia.

Strategi Penguatan Jaringan Penerbangan 2026

Memasuki 2026, Indonesia AirAsia kembali melanjutkan strategi ekspansi jaringan penerbangan. Pada kuartal pertama 2026, maskapai membuka rute baru menuju Melbourne di Australia serta Da Nang di Vietnam.

Kedua rute internasional tersebut dilayani melalui Bali yang terus diperkuat sebagai hub penerbangan internasional. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan arus wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia.

“Penguatan peran Bali sebagai hub internasional diharapkan dapat mendatangkan lebih banyak wisatawan mancanegara ke Indonesia sekaligus memperluas konektivitas penerbangan menuju berbagai destinasi internasional,” ujar Achmad.

Selain memperluas rute internasional, perusahaan juga memperkuat jaringan domestik. Pada awal 2026, maskapai menambah konektivitas yang menghubungkan Surabaya, Makassar, Palu, Luwuk, dan Kendari.

Makassar akan difungsikan sebagai virtual hub untuk memperluas konektivitas penerbangan ke berbagai wilayah di Indonesia timur. Dengan strategi ini, maskapai berupaya memperkuat jaringan domestik sekaligus mendukung pertumbuhan mobilitas antardaerah.

Seluruh rute Indonesia AirAsia juga terhubung dengan layanan Fly-Thru AirAsia Group. Layanan ini memungkinkan penumpang melanjutkan perjalanan ke lebih dari 150 destinasi dalam jaringan AirAsia Group di berbagai negara.

Terkini