Rupiah Melemah Tipis Terhadap Dolar AS Di Tengah Sentimen Global

Rabu, 11 Maret 2026 | 18:15:01 WIB
Rupiah Melemah Tipis Terhadap Dolar AS Di Tengah Sentimen Global

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada perdagangan terbaru. 

Setelah sempat menunjukkan penguatan pada awal sesi, mata uang domestik akhirnya tidak mampu mempertahankan momentum tersebut hingga penutupan pasar.

Perubahan arah ini menunjukkan bahwa sentimen pasar masih cenderung rapuh. Investor masih mempertimbangkan berbagai faktor global maupun domestik sebelum mengambil keputusan di pasar valuta asing.

Di tengah kondisi tersebut, dolar Amerika Serikat justru bergerak relatif stabil. Situasi ini membuat pergerakan rupiah terlihat cukup sensitif terhadap perubahan sentimen global yang terjadi dalam waktu singkat.

Nilai tukar rupiah berakhir di zona pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah menutup perdagangan di level Rp16.865/US$ atau melemah 0,06%.

Pergerakan ini membalikkan arah rupiah dibandingkan perdagangan sebelumnya, saat mata uang Garuda sempat menguat cukup tajam 0,47% ke level Rp16.855/US$.

Pergerakan Rupiah Berbalik Melemah Di Akhir Perdagangan

Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah sejatinya sempat dibuka menguat. Kondisi tersebut sempat memberikan optimisme di pasar bahwa mata uang domestik mampu melanjutkan tren penguatan yang terjadi sebelumnya.

Pada awal sesi, rupiah tercatat terapresiasi 0,21% ke posisi Rp16.820/US$.

Namun, penguatan tersebut tidak bertahan hingga penutupan dan akhirnya berbalik ke zona merah.

Perubahan arah ini menandakan bahwa tekanan terhadap rupiah masih cukup kuat di tengah dinamika pasar global.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB justru terpantau menguat 0,03% ke level 98,858.

Pergerakan indeks dolar yang masih stabil turut memengaruhi dinamika mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Sentimen Global Masih Membayangi Pasar Valuta Asing

Pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini menunjukkan bahwa mata uang domestik masih belum cukup kuat mempertahankan momentum penguatannya.

Hal ini terjadi meskipun dolar AS secara global justru sedang bergerak relatif stabil.

Di pasar global, dolar AS bergerak menguat tipis seiring pelaku pasar masih menunggu arah perkembangan perang AS-Israel melawan Iran.

Sinyal yang masih campur aduk terkait peluang meredanya konflik membuat sentimen investor masih rapuh.

Ketidakpastian geopolitik seringkali menjadi faktor yang memicu volatilitas di pasar keuangan.

Kondisi tersebut membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi investasi.

Pasar sebelumnya sempat berharap Presiden AS Donald Trump akan mendorong penyelesaian konflik dalam waktu dekat.

Namun di sisi lain, Trump juga berulang kali melontarkan ancaman keras terhadap Iran.

Ancaman tersebut terutama disampaikan jika Teheran mencoba mengganggu jalur pasokan energi melalui Selat Hormuz.

Perkembangan Fiskal Domestik Turut Diperhatikan Pasar

Selain faktor global, pelaku pasar juga mencermati perkembangan kondisi ekonomi domestik.

Kebijakan fiskal pemerintah menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian investor.

Dari dalam negeri, pasar juga mencermati perkembangan fiskal pemerintah setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa defisit APBN yang sudah melebar sejak awal tahun memang merupakan bagian dari desain anggaran.

"Ada yang bilang tahun lalu surplus, kenapa tahun ini defisit? Ya memang desain APBN kita defisit," kata Purbaya dalam konferensi pers APBN, Rabu (11/3/2026).

Ia menjelaskan, defisit yang besar pada awal tahun terjadi karena belanja negara bergerak lebih cepat.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemerintah menjalankan strategi fiskal yang telah dirancang sebelumnya.

Investor umumnya mencermati kebijakan anggaran karena dapat memengaruhi stabilitas ekonomi dalam jangka menengah.

Belanja Negara Didorong Lebih Merata Sepanjang Tahun

Sepanjang Januari-Februari 2026, APBN tercatat defisit Rp135,7 triliun.

Defisit tersebut terjadi dengan belanja negara mencapai Rp493,8 triliun dan pendapatan negara sebesar Rp358 triliun.

Pemerintah juga menegaskan kini tengah mendorong pola belanja yang lebih merata sepanjang tahun.

Langkah ini dilakukan agar dampak belanja pemerintah terhadap perekonomian dapat dirasakan secara lebih konsisten.

"Sekarang kita paksakan belanjanya lebih merata sepanjang tahun sehingga dampak belanja pemerintah dan lain-lain ke perekonomian lebih terasa," ujar Purbaya.

Kebijakan tersebut diharapkan mampu mendorong aktivitas ekonomi domestik secara lebih merata.

Di sisi lain, pasar tetap memantau berbagai faktor eksternal yang berpotensi memengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah.

Perkembangan geopolitik global, arah kebijakan moneter Amerika Serikat, serta dinamika harga komoditas dunia masih menjadi faktor penting yang menentukan pergerakan mata uang negara berkembang.

Dengan berbagai sentimen yang masih berkembang, volatilitas di pasar valuta asing diperkirakan masih akan berlanjut.

Pelaku pasar pun cenderung menunggu kejelasan arah kebijakan global sebelum mengambil langkah investasi yang lebih agresif.

Terkini