JAKARTA - Sejumlah bank besar Asia saat ini tengah bersaing untuk mengakuisisi bisnis ritel milik HSBC Holdings plc di Indonesia, senilai lebih dari US$200 juta atau sekitar Rp3,1 triliun.
Langkah ini dilakukan untuk memperkuat posisi mereka di pasar keuangan terbesar di Asia Tenggara, yang menunjukkan pertumbuhan stabil dan prospek menguntungkan bagi institusi asing.
Bank Asia Berebut Aset Ritel HSBC
Lima bank raksasa yang tertarik antara lain DBS Group Holdings Ltd, Oversea-Chinese Banking Corp (OCBC), dan United Overseas Bank Ltd (UOB) dari Singapura. Selain itu, CIMB Group Holdings Bhd dari Malaysia dan Sumitomo Mitsui Financial Group Inc (SMFG) dari Jepang juga masuk daftar peminat. Nilai transaksi penjualan aset ritel tersebut diperkirakan melebihi US$200 juta.
Diskusi terkait akuisisi ini masih berlangsung, dengan target pengumpulan penawaran mengikat (binding bids) dijadwalkan pada pertengahan Maret 2026. Bank-bank tersebut menilai Indonesia sebagai pasar strategis, seiring peningkatan penetrasi layanan keuangan digital dan pertumbuhan ekonomi yang terus membaik dalam tiga tahun terakhir.
Transformasi Strategis HSBC Global
Sejak 2024, CEO HSBC Georges Elhedery melakukan transformasi signifikan, termasuk pemangkasan ribuan karyawan dan penyederhanaan struktur manajemen. Bank ini dibagi menjadi empat divisi baru, sementara beberapa lini bisnis yang sebelumnya dianggap inti mulai ditinggalkan. Langkah ini mencerminkan strategi global HSBC untuk fokus pada efisiensi dan pertumbuhan jangka panjang.
HSBC juga meninjau bisnis ritel mereka di beberapa negara, termasuk Australia, Indonesia, dan Mesir, serta unit HSBC Life di Singapura. Transformasi ini membuat unit ritel Indonesia menjadi aset yang menarik bagi bank asing yang ingin memperluas jejak regional mereka.
Kehadiran Bank Asia di Indonesia
Bank-bank besar Asia melihat peluang strategis di Indonesia yang memiliki pertumbuhan ekonomi tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Kondisi ini menjadikan pasar perbankan ritel Indonesia sebagai target utama untuk ekspansi. Selain HSBC, beberapa lembaga keuangan global lainnya, seperti Citigroup Inc, juga telah melepas aset non-inti mereka, sementara ANZ Group Holdings Ltd mempertimbangkan menjual sahamnya di PT Bank Pan Indonesia.
Peminat transaksi ini diperkirakan akan mengandalkan sinergi dengan layanan digital dan jaringan cabang lokal untuk memperluas penetrasi pasar. Indonesia, dengan populasi besar dan penetrasi perbankan yang masih berkembang, menawarkan potensi pertumbuhan jangka panjang bagi investor.
Sejarah dan Jejak HSBC di Indonesia
HSBC pertama kali membuka cabang di Indonesia pada 1884, menandai kehadirannya lebih dari satu abad di pasar lokal. Dua dekade lalu, HSBC mengakuisisi PT Bank Ekonomi Raharja, yang kemudian berganti nama menjadi PT Bank HSBC Indonesia pada 2016. Saat ini, HSBC Indonesia mengoperasikan 28 cabang dengan sekitar 2.300 karyawan, melayani nasabah korporasi dan ritel.
Pada 2022, HSBC sempat mempertimbangkan rencana penawaran umum perdana (IPO) untuk unit ritel mereka, namun rencana tersebut kini bergeser ke arah potensi penjualan aset. Hal ini sejalan dengan strategi global HSBC yang menekankan fokus pada efisiensi dan restrukturisasi bisnis.
Prospek dan Tantangan Akuisisi
Meskipun potensi akuisisi menjanjikan, bank-bank Asia menghadapi tantangan, termasuk regulasi OJK, persaingan dengan bank lokal, dan integrasi teknologi digital yang sudah diterapkan HSBC. Keberhasilan transaksi ini akan bergantung pada strategi integrasi dan kemampuan bank asing memanfaatkan jaringan cabang yang ada untuk mengoptimalkan pertumbuhan ritel.
Sejauh ini, perwakilan dari DBS, UOB, OCBC, CIMB, dan SMFG menolak memberikan komentar. HSBC pun enggan berkomentar lebih lanjut terkait tinjauan strategis di Indonesia, menegaskan bahwa proses diskusi masih berlangsung secara internal.
Potensi Nilai Jangka Panjang
Jika transaksi berjalan lancar, akuisisi ini akan menjadi langkah penting bagi bank-bank Asia dalam memperkuat posisi di Asia Tenggara. Dengan fondasi HSBC yang sudah mapan, termasuk jaringan cabang dan basis nasabah yang stabil, bank pemilik baru berpeluang memperluas penetrasi layanan ritel dan meningkatkan portofolio aset mereka di pasar berkembang ini.