JAKARTA - Gema prestasi kembali datang dari dunia pendidikan tinggi Islam di Jawa Timur. Institut Al Azhar Menganti Gresik baru saja menorehkan catatan emas dalam sejarah perjalanan akademiknya dengan memborong empat penghargaan jurnal ilmiah nasional. Pencapaian ini diraih dalam forum bergengsi ARJUNU yang diinisiasi oleh Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) PBNU, bertempat di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) pada Selasa, 10 Februari 2026.
Prestasi ini bukan sekadar deretan piagam, melainkan sebuah pernyataan tegas mengenai posisi Institut Al Azhar sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan Islam yang progresif. Di tengah ketatnya persaingan publikasi ilmiah, institusi ini mampu membuktikan bahwa tata kelola riset yang baik dapat melahirkan pengakuan di tingkat nasional.
Standar Mutu dan Pengakuan Ekosistem Publikasi Ilmiah
Forum ARJUNU LPTNU PBNU sendiri merupakan kawah candradimuka bagi para pengelola jurnal, peneliti, dan akademisi dari berbagai perguruan tinggi. Platform strategis ini bertujuan menyelaraskan standar mutu publikasi internal NU dengan standar praktik terbaik, baik di level nasional maupun internasional. Penghargaan yang diberikan merupakan hasil evaluasi ketat yang mencakup konsistensi penerbitan, tata kelola editorial yang akuntabel, serta dampak nyata keilmuan jurnal tersebut terhadap masyarakat akademik.
Capaian Institut Al Azhar dalam ajang ini mencerminkan keberhasilan mereka dalam membangun ekosistem riset yang berkelanjutan. Dengan meraih penghargaan untuk empat jurnal sekaligus, kampus ini menunjukkan dedikasi yang merata di berbagai disiplin ilmu, mulai dari pemikiran Islam, ekonomi syariah, hingga pendidikan dasar dan ilmu sosial.
Fikroh: Jembatan Wacana Klasik dan Tantangan Modern
Salah satu bintang dalam penghargaan tersebut adalah Fikroh: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam. Jurnal ini berhasil meraih akreditasi SINTA 3, sebuah pencapaian yang menandai kualitas tinggi dalam kajian keislaman. Para penguji menilai Fikroh mampu mengembangkan diskursus pendidikan Islam secara kritis namun tetap kontekstual.
Keunggulan utama jurnal ini terletak pada kemampuannya menjembatani khazanah keilmuan Islam klasik dengan berbagai tantangan yang muncul di era pendidikan modern. Hal ini menjadikan Fikroh sebagai rujukan penting bagi para akademisi yang ingin melihat bagaimana nilai-nilai Islam diimplementasikan dalam sistem pendidikan masa kini.
Eksistensi Riset Empiris dalam Ekonomi dan Pendidikan Dasar
Institut Al Azhar juga menunjukkan taringnya dalam bidang ekonomi dan pendidikan dasar melalui dua jurnal lainnya, yaitu Al Iqtishod: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Ekonomi Islam serta Zahra: Research and Thought Elementary School of Islam Journal. Keduanya berhasil menyabet akreditasi SINTA 4.
Apresiasi diberikan karena konsistensi kedua jurnal ini dalam menghadirkan riset-riset empiris dan konseptual yang sangat relevan. Al Iqtishod dipandang mampu membedah isu-isu ekonomi syariah dari perspektif global, sementara Zahra menjadi ruang refleksi bagi pengembangan pendidikan dasar Islam yang adaptif terhadap perubahan zaman. Kehadiran riset-riset di kedua jurnal ini menjadi bukti bahwa Institut Al Azhar tidak hanya berteori, tetapi juga mendalami fenomena lapangan melalui data yang valid.
Integrasi Ilmu Sosial dan Nilai-Nilai Kebangsaan
Melengkapi daftar prestasi tersebut, Journal of Social Science and Economics berhasil mengamankan posisi terakreditasi SINTA 5. Keberadaan jurnal ini memperkuat portofolio Institut Al Azhar dalam ranah kajian interdisipliner. Di sini, dialog ilmiah tidak dibatasi pada satu bidang saja, melainkan didorong untuk mengintegrasikan ilmu sosial dengan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Jurnal ini diposisikan sebagai wadah bagi para peneliti untuk memberikan sumbangsih pemikiran terhadap isu-isu sosial-ekonomi yang tengah dihadapi bangsa Indonesia dengan tetap berlandaskan pada etika religi.
Visi Berkelanjutan dalam Pengelolaan Publikasi
Keberhasilan ini pun mendapat apresiasi dari tingkat pusat. Ketua ARJUNU, Dr. Fifi Khoirotul Fithriyah, M.Pd., menyatakan bahwa raihan seluruh jurnal di bawah bendera LPTNU PBNU, termasuk Institut Al Azhar, merupakan cerminan dari praktik pengelolaan yang visioner. Menurutnya, kesuksesan ini menjadi sinyal kuat bahwa perguruan tinggi Islam memiliki kapasitas bersaing dalam ekosistem publikasi ilmiah yang semakin kompetitif, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Dr. Fifi menilai bahwa kemampuan sebuah institusi untuk menjaga konsistensi dan mutu jurnal adalah indikator kesehatan akademik yang paling nyata. Transformasi dari pengelola jurnal amatir menuju profesional adalah kunci utama dalam memenangkan persaingan intelektual di masa depan.
Jurnal Sebagai Instrumen Diplomasi Intelektual Dunia
Rektor Institut Al Azhar Menganti Gresik, Dr. Imam Bahrozi, MM, mengungkapkan rasa bangganya atas kerja kolektif seluruh sivitas akademika. Baginya, penghargaan ini merupakan bagian dari cetak biru strategi jangka panjang kampus dalam memperkuat kualitas riset. Ia menegaskan bahwa fungsi jurnal tidak boleh berhenti hanya untuk memenuhi syarat akreditasi institusi.
"Jurnal ilmiah tidak hanya berfungsi sebagai instrumen akreditasi, tetapi juga sebagai medium diplomasi intelektual dan kontribusi keilmuan Islam bagi peradaban global," tutur Dr. Imam Bahrozi dalam pernyataannya. Pandangan ini menunjukkan bahwa Institut Al Azhar memiliki cita-cita besar untuk membawa pemikiran-pemikiran dari Menganti ke panggung dunia melalui publikasi yang kredibel.
Menyongsong Internasionalisasi dan Kolaborasi Lintas Batas
Dengan bekal empat penghargaan ARJUNU Awards ini, Institut Al Azhar Menganti Gresik semakin mantap melangkah menuju internasionalisasi. Prestasi ini diharapkan menjadi pemantik bagi para dosen dan peneliti untuk terus meningkatkan standar tulisan mereka serta memperluas jaringan kolaborasi riset dengan institusi lain, baik di dalam maupun di luar negeri.
Komitmen untuk terus membenahi kualitas publikasi adalah harga mati guna memperkuat posisi perguruan tinggi Islam Indonesia dalam lanskap akademik dunia. Ke depan, tantangan besar yang menanti adalah bagaimana membawa jurnal-jurnal SINTA ini naik kelas menuju indeksasi internasional bereputasi seperti Scopus atau WoS. Namun, dengan fondasi yang sudah diletakkan hari ini, optimisme tersebut bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan.