JAKARTA - Empat dekade bukan perjalanan singkat bagi sebuah perusahaan kecantikan di tengah perubahan tren dan teknologi.
Oriflame Indonesia membuktikan ketahanannya dengan tetap mempertahankan model direct selling meski lanskap penjualan telah bergeser ke e-commerce dan social commerce. Di saat banyak merek berlomba masuk marketplace, perusahaan asal Swedia ini justru konsisten pada pendekatan relasi personal. Strategi tersebut dinilai masih relevan di tengah persaingan industri yang semakin padat.
Memasuki usia 40 tahun di Indonesia, Oriflame melihat kepercayaan sebagai fondasi utama bisnisnya. Hubungan antara penjual dan konsumen dianggap lebih dari sekadar transaksi. Ada unsur edukasi produk, pengalaman penggunaan, serta rekomendasi yang bersifat personal. Nilai inilah yang diyakini sulit tergantikan oleh sistem belanja digital semata.
Marketing Director Oriflame Indonesia, Patricia, mengatakan, direct selling menawarkan nilai tambah berupa edukasi produk dan kepercayaan. Konsumen tidak hanya membeli berdasarkan harga, tetapi juga berdasarkan pengalaman dan rekomendasi dari orang yang mereka kenal. “Direct marketing juga kan based on trust, dimana itu juga ada reviewnya secara langsung,” tambah Patricia kepada Bisnis, saat perayaan 40 tahun perjalanan Oriflame di Indonesia.
Kekuatan Jaringan Beauty Entrepreneur
Oriflame Indonesia saat ini katanya didukung lebih dari 100.000 beauty entrepreneur yang mayoritas perempuan. Jaringan ini menjadi kekuatan utama Oriflame dalam menjangkau konsumen di berbagai daerah. Terutama pada segmen yang masih mengandalkan rekomendasi personal sebelum membeli produk kecantikan. Keberadaan mereka memperkuat posisi perusahaan di pasar lokal.
Model direct selling yang dijalankan tidak lagi identik dengan metode konvensional dari pintu ke pintu. Perubahan perilaku konsumen turut mendorong transformasi cara berinteraksi. Beauty entrepreneur kini memanfaatkan media sosial untuk membangun kedekatan dengan calon pembeli. Pendekatan ini tetap menjaga unsur personal sekaligus mengikuti perkembangan zaman.
Meski tidak memanfaatkan platform e-commerce sebagai kanal penjualan resmi, Oriflame tetap mengadopsi strategi digital untuk memperkuat model direct selling. Beauty entrepreneur didorong aktif di media sosial sebagai content creator, bukan sekadar penjual. Konten yang dihasilkan berfungsi sebagai ulasan dan rekomendasi, tanpa transaksi langsung di marketplace.
Transformasi Direct Selling Di Era Social Commerce
Seiring perkembangan teknologi digital, model direct selling Oriflame tidak lagi identik dengan penjualan konvensional dari pintu ke pintu. Pola interaksi kini lebih fleksibel dan efisien melalui platform digital. “Sekarang malah lebih gampang, klik, share, and buy. Mereka juga kan enggak perlu nyetok lagi dan tidak dipungut biaya apapun,” sebut Patricia. Pernyataan tersebut menegaskan adaptasi yang dilakukan perusahaan.
Kemudahan akses digital memungkinkan beauty entrepreneur menjalankan bisnis tanpa beban stok barang. Sistem ini membuat peluang usaha semakin terbuka bagi siapa saja. Selain itu, tidak adanya biaya pendaftaran menjadi daya tarik tersendiri. Pendekatan tersebut dinilai selaras dengan semangat kewirausahaan perempuan.
Untuk mendukung para beauty entrepreneur tersebut, Oriflame menyediakan pusat konten digital yang dapat digunakan. Materi promosi, visual produk, hingga pelatihan algoritma media sosial seperti TikTok dan Instagram tersedia secara terintegrasi. Fasilitas ini membantu mereka memahami cara kerja distribusi konten digital.
Strategi Hybrid Bangun Kesadaran Merek
Di sisi lain, perusahaan juga menjalankan kampanye digital secara langsung ke konsumen melalui iklan media sosial dan kanal digital lainnya. Strategi ini dirancang untuk membangun kesadaran merek secara luas. Dengan pendekatan tersebut, konsumen telah memiliki pemahaman awal sebelum menerima penawaran produk. Langkah ini memperkuat efektivitas jaringan direct selling.
“Jadi bisa dibilang hybrid. Kami tetap melakukan brand marketing supaya ketika beauty entrepreneur menjual (produk), enggak perlu banyak menjelaskan,” tambah Patricia. Strategi hybrid tersebut menggabungkan kekuatan relasi personal dan eksposur digital. Perusahaan tetap setia pada model direct selling, namun memanfaatkan teknologi untuk memperluas jangkauan.
Memasuki usia 40 tahun, Oriflame Indonesia menunjukkan bahwa adaptasi tidak selalu berarti meninggalkan identitas awal. Direct selling tetap menjadi fondasi utama, sementara digitalisasi berperan sebagai penguat. Kombinasi keduanya membentuk model bisnis yang relevan di era social commerce. Pendekatan ini sekaligus menegaskan pentingnya kepercayaan dalam industri kecantikan.