JAKARTA - Lanskap perencanaan keuangan keluarga di Indonesia tengah mengalami transformasi fundamental. Jika satu dekade lalu fokus utama hanya tertuju pada stabilitas domestik, kini aspirasi masyarakat telah melampaui batas-batas geografis. Keinginan untuk menyekolahkan anak ke universitas top dunia, memiliki properti di pusat finansial global, hingga mengejar karier internasional telah menjadi standar baru bagi keluarga modern. Namun, ambisi besar ini membawa tantangan yang tak kalah masif: bagaimana menjaga nilai aset tetap relevan ketika dihadapkan pada volatilitas mata uang dunia?
Pergeseran tren ini menuntut kesiapan dana dalam mata uang asing, agar setiap rencana besar lintas generasi dapat berjalan tanpa hambatan finansial. Tanpa strategi yang matang, impian global tersebut berisiko tergerus oleh depresiasi nilai tukar yang sering kali terjadi secara tiba-tiba di pasar berkembang.
Jurang Kurs: Ketika Mimpi Berbiaya Dolar dan Pendapatan Rupiah
Tantangan utama muncul ketika impian keluarga dihitung dalam dolar Amerika Serikat (US$), namun sumber pendanaan utama masih sangat bergantung pada rupiah. Kesenjangan ini menciptakan kerentanan yang nyata. Kondisi pasar yang fluktuatif sering kali menjadi kendala serius, terutama saat nilai tukar mata uang domestik mengalami pelemahan terhadap nilai global. Hal ini membuat biaya yang semula terlihat terjangkau, mendadak membengkak dan melampaui kemampuan alokasi dana yang telah disiapkan sebelumnya.
Menanggapi fenomena ini, Vivin Arbianti Gautama selaku Chief Customer Marketing Officer Prudential Syariah menjelaskan bahwa dibutuhkan paradigma baru dalam mengelola kekayaan keluarga. “Keluarga kini membutuhkan solusi yang siap menjawab kebutuhan global, lintas mata uang, serta berkelanjutan dari satu generasi ke generasi berikutnya,” kata Vivin dalam siaran pers kepada Marketeers.
Menakar Biaya Pendidikan dan Properti di Pasar Internasional
Besarnya dana yang harus disiapkan untuk kebutuhan internasional memang cukup mencengangkan. Data menunjukkan biaya pendidikan sarjana di AS saat ini memerlukan dana sekitar US$ 200.000 hingga lebih dari US$ 350.000. Angka tersebut mencakup biaya akademik di universitas bergengsi yang terus mengalami kenaikan setiap tahunnya. Sementara itu, untuk wilayah Australia, biaya yang harus disiapkan mencapai rentang antara US$ 125.000 hingga US$ 245.000 untuk biaya hidup dan sekolah.
Bukan hanya sektor pendidikan, kebutuhan akan papan di kancah internasional juga menjadi instrumen perencanaan yang berat. Sektor properti global juga memberikan tekanan serupa, seperti harga kondominium di Singapura yang rata-rata sudah menyentuh angka US$ 1,9 juta. Kebutuhan pendanaan tersebut bahkan bisa membengkak, karena adanya pajak tambahan bagi warga negara asing yang ingin mengelola aset di luar negeri. Angka-angka ini menjadi pengingat bagi setiap kepala keluarga bahwa perencanaan dalam mata uang rupiah saja tidak lagi cukup untuk mengamankan aset di luar negeri.
Dampak Depresiasi Rupiah dan Inflasi Terhadap Daya Beli
Jika menilik ke belakang, risiko pelemahan mata uang bukanlah sekadar teori, melainkan fakta yang telah membebani keuangan keluarga selama satu dekade terakhir. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat mengalami depresiasi sebesar 27%, sejak tahun 2015 hingga periode bulan Januari 2026. Angka penurunan yang cukup tajam ini secara otomatis merombak kalkulasi biaya masa depan.
Pelemahan ini menyebabkan selisih biaya pendidikan yang semula bernilai Rp 2,68 miliar, melonjak drastis hingga menyentuh angka sekitar Rp 3,39 miliar rupiah. Selisih ratusan juta hingga miliaran rupiah tersebut sering kali tidak terduga jika orang tua hanya menabung secara konvensional tanpa instrumen perlindungan nilai. Oleh karena itu, Vivin menekankan pentingnya relevansi dalam perencanaan. “Perencanaan finansial perlu dirancang secara lebih relevan, dengan mempertimbangkan struktur aset, tujuan hidup, serta kesiapan dalam lintas mata uang,” ujar Vivin.
Selain kurs, inflasi domestik tahun 2025 yang tercatat sebesar 2,92% turut memengaruhi kemampuan keluarga dalam menjaga nilai perencanaan keuangan masa depan. Kenaikan harga barang konsumsi sehari-hari secara perlahan menggerus daya beli masyarakat, jika tidak segera diantisipasi dengan perlindungan finansial yang tepat. Efek ganda dari inflasi dan depresiasi kurs inilah yang menjadi musuh utama bagi ketahanan finansial keluarga jangka panjang.
Pendekatan Syariah Sebagai Solusi Keuangan Transparan dan Adil
Di tengah kompleksitas tantangan global tersebut, masyarakat mulai mencari alternatif pengelolaan risiko yang lebih aman dan sesuai dengan nilai-nilai etis. Pendekatan berbasis syariah kini menjadi pilihan yang semakin relevan, karena mengedepankan prinsip transparansi serta semangat tolong-menolong dalam mengelola risiko. Konsep tabarru atau saling menanggung dalam asuransi syariah dianggap lebih stabil dalam menghadapi badai ekonomi global karena tidak mengandung unsur spekulasi yang berlebihan.
Perlindungan ini memastikan keluarga dapat tetap memberikan pengalaman terbaik bagi anak, tanpa harus mengorbankan kualitas hidup pada masa sekarang. Dengan memiliki asuransi atau instrumen keuangan yang siap dalam mata uang asing dan dikelola secara syariah, keluarga Indonesia dapat lebih tenang dalam menatap masa depan. Kemampuan untuk merencanakan keuangan lintas mata uang bukan lagi sebuah kemewahan, melainkan kebutuhan darurat untuk menjamin bahwa setiap rencana besar keluarga—mulai dari pendidikan hingga warisan—tetap utuh nilainya saat tiba waktunya untuk direalisasikan.