JAKARTA - Gangguan banjir yang sempat merendam ruas Jalan Tol Tangerang–Merak di KM 50 menjadi perhatian serius pemerintah pada awal Februari 2026.
Selain berdampak pada arus lalu lintas, kejadian tersebut turut menghambat jalur vital distribusi logistik antara Pulau Jawa dan Sumatra. Kondisi ini mendorong pemerintah bergerak cepat melakukan penanganan darurat sekaligus menyiapkan langkah jangka panjang agar peristiwa serupa tidak kembali terulang.
Kementerian Pekerjaan Umum menilai perlunya pengendalian banjir yang lebih terstruktur di kawasan Sungai Cidurian. Tidak hanya fokus pada pemulihan akses tol, pemerintah juga menyiapkan infrastruktur pengendali banjir permanen guna melindungi ruas jalan strategis tersebut. Upaya ini diharapkan mampu memberikan rasa aman bagi pengguna jalan dan menjaga kelancaran konektivitas nasional.
Langkah Darurat Pascabanjir Tol
Kementerian Pekerjaan Umum melakukan penanganan darurat pascabanjir yang merendam ruas Jalan Tol Tangerang–Merak tepatnya di KM 50. Fokus utama penanganan awal adalah memastikan jalan tol kembali dapat difungsikan secara normal dan aman bagi seluruh pengguna kendaraan. Langkah ini dinilai krusial mengingat tol tersebut menjadi jalur utama pergerakan barang dan orang.
Menteri PU Dody Hanggodo menjelaskan bahwa tindakan jangka pendek yang dilakukan saat ini berupa pembangunan tanggul darurat di sisi jalan tol. Tanggul tersebut dibangun sepanjang 300 meter untuk menahan limpasan air dari Sungai Cidurian agar tidak kembali menggenangi badan jalan. Penanganan cepat ini dilakukan sebagai respons atas kondisi darurat yang terjadi di lapangan.
Kombinasi Geobag Dan Barrier Beton
Dalam pelaksanaannya, konstruksi tanggul darurat menggunakan kombinasi geobag dan Movable Concrete Barrier atau MCB. Material tersebut dipilih karena dinilai efektif dan cepat diaplikasikan dalam kondisi darurat. Dengan sistem ini, aliran air dapat diarahkan dan ditahan sementara sehingga tidak masuk ke area jalan tol.
Menurut Dody Hanggodo, penggunaan metode darurat ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam menjaga infrastruktur strategis tetap berfungsi. “Kementerian PU berkomitmen untuk terus memberikan dukungan infrastruktur pengendalian banjir, baik melalui langkah darurat maupun penanganan jangka panjang, agar resiko dapat diminimalkan,” kata Dody dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (3/2/2026).
Kondisi Terkini Ruas Tol KM 50
Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau–Ciujung–Cidurian memastikan bahwa ruas Tol Tangerang–Merak di KM 50 kini telah pulih. Jalan tol tersebut sudah dapat dilalui secara aman oleh seluruh golongan kendaraan setelah dilakukan pembersihan dan pengamanan area terdampak banjir. Pemulihan ini menjadi prioritas agar aktivitas logistik tidak terganggu lebih lama.
Meski demikian, kewaspadaan tetap diberlakukan di lokasi. BBWS C3 masih menyiagakan alat berat dan personel karena debit Sungai Cidurian dilaporkan masih relatif tinggi. Langkah siaga ini dilakukan untuk mengantisipasi potensi kenaikan muka air yang dapat kembali mengancam ruas jalan tol.
Pompa Air Dan Penanganan Wilayah Sekitar
Selain fokus di area jalan tol, BBWS C3 juga mengerahkan dua unit mobile pump berkapasitas 250 liter per detik di wilayah Kabupaten Tangerang. Pompa tersebut digunakan untuk mengatasi genangan air di kawasan permukiman dan fasilitas umum yang terdampak banjir akibat luapan sungai.
Penanganan difokuskan pada fasilitas pendidikan, khususnya di Kecamatan Kresek yang terdampak langsung kenaikan debit Sungai Cidurian. Dengan pengoperasian pompa air tersebut, genangan diharapkan cepat surut sehingga aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal tanpa gangguan berkepanjangan.
Kesiapan Alat Dan Koordinasi Lapangan
Kepala BBWS Cidanau–Ciujung–Cidurian, Dedi Yudha Lesmana, menyampaikan bahwa seluruh peralatan dan material kebencanaan telah disiapkan di titik-titik strategis. Kesiapan ini bertujuan untuk mempercepat respons apabila terjadi kondisi darurat lanjutan di sekitar Sungai Cidurian dan ruas tol.
“Peralatan dan material kebencanaan milik BBWS C3 sudah siap digunakan. Namun, kami tetap memperhatikan kondisi lapangan, terutama akses menuju lokasi, sebelum menentukan metode penanganan yang paling tepat,” ujar Dedi. Menurutnya, faktor cuaca dan aksesibilitas sangat menentukan efektivitas penanganan di lapangan.
Rencana Tanggul Permanen Sungai Cidurian
Untuk solusi jangka panjang, pemerintah telah menyiapkan desain pembangunan tanggul permanen di Sungai Cidurian. Rencana tersebut mencakup perkuatan tanggul eksisting dengan pemasangan parapet serta pembangunan pintu air sebagai sistem pengendalian banjir yang lebih menyeluruh. Infrastruktur ini diharapkan mampu menahan luapan air saat debit sungai meningkat.
Dalam pelaksanaannya, BBWS C3 kini tengah berkoordinasi dengan PT Marga Mandalasakti selaku Badan Usaha Jalan Tol serta Pemerintah Kabupaten Tangerang. Koordinasi lintas pihak ini diperlukan agar pembangunan tanggul permanen dapat berjalan optimal, terintegrasi, dan memberikan perlindungan jangka panjang bagi jalan tol serta kawasan sekitarnya.