JAKARTA - Persebaya Surabaya kembali harus menelan kekecewaan di hadapan pendukungnya sendiri.
Bermain di Stadion Gelora Bung Tomo pada lanjutan BRI Super League 2025/2026, Minggu malam WIB, Bajul Ijo gagal memaksimalkan keunggulan jumlah pemain dan hanya mampu bermain imbang 1-1 melawan Dewa United. Hasil ini terasa pahit karena Persebaya sempat berada di atas angin cukup lama dalam pertandingan.
Sejak awal laga, atmosfer stadion begitu bergelora. Persebaya tampil agresif dengan intensitas tinggi, mencoba menekan sejak menit-menit awal. Namun, solidnya organisasi permainan Dewa United membuat laga berjalan seimbang, hingga akhirnya momen-momen krusial mengubah jalannya pertandingan.
Awal Menjanjikan dari Tuan Rumah
Persebaya berhasil membuka keunggulan lebih dulu pada menit ke-23. Gol tercipta melalui Francisco Rivera yang memanfaatkan celah di pertahanan lawan. Aksi Rivera menjadi pelepas ketegangan sekaligus membakar semangat publik Gelora Bung Tomo yang berharap kemenangan penuh dari tim kebanggaannya.
Gol tersebut membuat Persebaya semakin percaya diri. Aliran bola lebih lancar, dan tekanan ke area pertahanan Dewa United terus dilakukan. Namun, keunggulan itu tidak bertahan lama karena tim tamu mampu merespons dengan cepat.
Tujuh menit berselang, Dewa United menyamakan kedudukan lewat Muhammad Kafiatur Rizky. Gol ini datang di tengah momentum Persebaya yang sedang naik, sekaligus menjadi pukulan psikologis bagi tuan rumah yang sebelumnya tampak dominan.
Kartu Merah yang Mengubah Dinamika Laga
Situasi pertandingan berubah drastis pada menit ke-37. Dewa United harus bermain dengan sepuluh orang setelah Nick Kuipers diganjar kartu merah oleh wasit. Keputusan tersebut membuat tim tamu berada dalam posisi sulit, terutama menghadapi tekanan Persebaya di kandang sendiri.
Dengan keunggulan jumlah pemain, Persebaya seharusnya memiliki ruang lebih besar untuk mengontrol pertandingan. Bajul Ijo memang menguasai bola lebih lama dan lebih sering membangun serangan dari kedua sisi lapangan.
Namun, Dewa United menunjukkan disiplin tinggi. Mereka menurunkan tempo, memperkuat lini pertahanan, dan mengandalkan serangan balik cepat untuk meredam agresivitas Persebaya hingga babak pertama berakhir.
Dominasi Tanpa Penyelesaian Maksimal
Memasuki babak kedua, Persebaya tampil semakin menekan. Kombinasi lini tengah yang dikomandoi Milos Raickovic dan Francisco Rivera membuat aliran bola terus mengarah ke pertahanan Dewa United. Peluang demi peluang diciptakan, tetapi penyelesaian akhir menjadi masalah utama.
Dewa United bertahan dengan garis rendah dan disiplin tinggi. Sonny Stevens tampil solid di bawah mistar, menggagalkan beberapa peluang berbahaya Persebaya. Situasi ini membuat tuan rumah mulai terlihat frustrasi seiring waktu berjalan.
Pelatih Persebaya mencoba mengubah dinamika dengan memasukkan pemain segar. Intensitas serangan meningkat, namun efektivitas tetap menjadi persoalan. Keunggulan jumlah pemain belum mampu diterjemahkan menjadi gol tambahan.
Drama VAR di Menit Akhir
Puncak drama terjadi pada menit ke-89. Persebaya sempat bersorak setelah Mihailo Perovic mencetak gol yang dikira menjadi penentu kemenangan. Stadion Gelora Bung Tomo bergemuruh, para pemain merayakan gol tersebut dengan penuh emosi.
Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Wasit mendapat intervensi VAR dan meninjau ulang proses terjadinya gol. Setelah pemeriksaan, gol tersebut dianulir karena adanya pelanggaran yang dilakukan lebih dulu dalam proses serangan.
Keputusan ini memukul mental Persebaya. Sisa waktu pertandingan tidak cukup untuk mencetak gol tambahan, dan laga pun berakhir dengan skor imbang 1-1 meski Bajul Ijo unggul jumlah pemain hampir sepanjang laga.
Dampak Hasil Imbang bagi Klasemen
Hasil ini jelas menghambat ambisi Persebaya untuk meramaikan persaingan papan atas BRI Super League. Dengan tambahan satu poin, Ernando Ari dan kawan-kawan tetap tertahan di peringkat kelima dengan koleksi 32 poin.
Sementara itu, Dewa United patut berbangga dengan hasil ini. Bermain dengan sepuluh orang sejak menit ke-37, mereka mampu mencuri satu poin penting dan bertahan di posisi ke-10 klasemen, tertinggal delapan poin dari Persebaya.
Pada pekan berikutnya, Persebaya dijadwalkan menghadapi tantangan berat melawan Bali United pada Sabtu (7/2/2026). Di sisi lain, Dewa United akan berhadapan dengan Persik Kediri pada hari yang sama, membawa modal kepercayaan diri dari hasil imbang di Surabaya.
Persaingan Liga Masih Panjang
Hasil Persebaya kontra Dewa United menjadi gambaran ketatnya persaingan BRI Super League musim 2025/2026. Keunggulan jumlah pemain tidak selalu menjamin kemenangan, terutama jika tidak diiringi ketenangan dan efektivitas di lini depan.
Dengan total 18 tim dan 306 pertandingan sepanjang musim, setiap poin memiliki arti penting. Kompetisi yang kini mengusung nama BRI Super League ini disiarkan secara eksklusif oleh Emtek melalui Indosiar, Vidio, Nex, dan Sin Po TV, menjangkau jutaan penikmat sepak bola nasional.
Bagi Persebaya, laga ini menjadi evaluasi penting. Dominasi harus dibarengi dengan ketajaman, terutama saat peluang emas datang. Sementara bagi Dewa United, hasil di Gelora Bung Tomo membuktikan bahwa disiplin dan mental bertanding mampu menutup keterbatasan di lapangan.