JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan akhir pekan ini.
Di tengah dinamika pasar keuangan global yang belum stabil, mata uang Garuda menunjukkan kecenderungan melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi ini mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar dalam merespons arus modal asing dan sinyal kebijakan moneter global yang masih ketat.
Tekanan terhadap rupiah terjadi seiring meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan, khususnya setelah gejolak di pasar saham domestik. Investor global cenderung menahan diri dan melakukan reposisi aset, yang berdampak langsung pada pasar valuta asing. Situasi tersebut membuat rupiah belum mampu keluar dari tren pelemahan jangka pendek.
Pada perdagangan Jumat siang, pergerakan rupiah masih berada dalam kisaran yang diperkirakan analis. Meski pelemahan terbilang terbatas, sentimen negatif dari eksternal tetap menjadi faktor dominan yang memengaruhi arah nilai tukar sepanjang hari ini.
Pergerakan Rupiah di Pasar Spot Terkini
Mengacu pada data Bloomberg, nilai tukar rupiah pada Jumat, 30 Januari 2026, tercatat melemah 0,20 persen ke posisi Rp16.788 per dolar Amerika Serikat pada pukul 12.53 WIB. Angka ini menunjukkan rupiah masih berada di bawah tekanan lanjutan setelah sehari sebelumnya juga ditutup melemah di pasar spot.
Pada perdagangan Kamis, 29 Januari 2026, rupiah tercatat melemah secara harian 0,20 persen dan ditutup di level Rp16.755 per dolar AS. Pelemahan beruntun ini menandakan bahwa tekanan terhadap mata uang domestik belum sepenuhnya mereda.
Pergerakan rupiah yang cenderung melemah ini terjadi di tengah volatilitas pasar global. Investor masih mencermati perkembangan di pasar saham dan obligasi, baik di dalam negeri maupun di pasar internasional, yang turut memengaruhi arus modal masuk dan keluar.
Tekanan Asing dari Pasar Saham Domestik
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menjelaskan bahwa depresiasi rupiah tidak lepas dari berlanjutnya aksi jual investor asing di pasar saham domestik. Tekanan di bursa saham membuat sebagian dana asing keluar, sehingga berdampak langsung pada permintaan dolar AS.
Aksi jual tersebut dipicu oleh perubahan pandangan sejumlah lembaga keuangan global terhadap aset Indonesia. Penyesuaian portofolio oleh investor asing membuat pasar keuangan domestik mengalami tekanan, termasuk pada nilai tukar rupiah.
Menurut Josua, sentimen negatif di pasar saham memiliki efek rambatan yang cukup kuat terhadap pasar valuta asing. Ketika investor asing melepas aset berdenominasi rupiah, kebutuhan akan dolar meningkat dan mendorong pelemahan mata uang domestik.
Dampak Penurunan Rekomendasi Goldman Sachs
Salah satu faktor yang menekan rupiah adalah keputusan Goldman Sachs yang menurunkan status Indonesia menjadi underweight. Langkah ini memicu kekhawatiran akan potensi selloff lanjutan di pasar keuangan domestik.
Penurunan rekomendasi tersebut dinilai meningkatkan persepsi risiko terhadap aset Indonesia di mata investor global. Akibatnya, sebagian pelaku pasar memilih mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk saham dan mata uang negara berkembang.
Josua menyebutkan bahwa keputusan tersebut berkontribusi terhadap tekanan psikologis di pasar. Meski faktor fundamental domestik relatif terjaga, sentimen global sering kali lebih dominan dalam jangka pendek.
Sinyal Kebijakan The Fed Jadi Perhatian
Selain faktor dari dalam negeri, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh sinyal kebijakan moneter Amerika Serikat. The Federal Reserve memberikan indikasi kemungkinan mempertahankan suku bunga acuan dalam jangka pendek.
Sikap bank sentral AS yang cenderung hawkish membuat dolar tetap kuat di pasar global. Kondisi ini menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, karena selisih imbal hasil yang masih menguntungkan aset berdenominasi dolar.
Josua menilai, selama The Fed belum memberikan sinyal pelonggaran yang lebih jelas, tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut. Pelaku pasar akan terus mencermati setiap pernyataan pejabat bank sentral AS sebagai acuan arah pasar.
Proyeksi Pergerakan Rupiah Jangka Pendek
Dalam jangka pendek, rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terbatas. Josua memperkirakan nilai tukar rupiah pada Jumat ini akan bergerak di kisaran Rp16.700 hingga Rp16.800 per dolar AS.
Rentang pergerakan tersebut mencerminkan pasar yang masih mencari keseimbangan baru di tengah tekanan eksternal. Stabilitas nilai tukar akan sangat bergantung pada perkembangan sentimen global dan arus modal asing.
Pelaku pasar diharapkan tetap mencermati berbagai faktor risiko, baik dari sisi global maupun domestik. Dengan volatilitas yang masih tinggi, kehati-hatian menjadi kunci dalam menyikapi pergerakan rupiah dalam waktu dekat.